MEMBANGUN ASA
Satu minggu sudah berlalu sejak pulang dari opname di rumah sakit akibat hipokalimei, sekantung plastik permen warna warni berasa pahit itu sudah habis, artinya aku harus segera kembali ke dokter. namun kondisiku tidak banyak berubah, masih loyo dan detak jantung meningkat tinggi saat aku coba beraktifitas, walau hanya sekedar mencoba menyapu ruang tamu.
Hampir sat bulan terpaksa aku tidak bisa pergi ke sekolah untuk melaksanakan tugasku, sebagai keala madrasah tugasku memang tidak langsung berhadapan dengan siswa, aku pantau madrasah dari rumah yang kebetuan memang tidak terlalu jauh. sungguh aku merasa hari-hariku menjadi sangat tidak berarti, kadang muncul rasa putus asa, tetapi rasa itu segera aku coba tepiskan dikala aku lihat si kecilku yang masih manja dan tentunya masih sangat membutuhkanku. aku kuatkan batinku, aku tidak boleh putus asa.
Dokter sebagaimana biasa menasehatiku untuk tidak melanggar 3 larangan yang beliau sebut dengan 3M yaitu terkena Matahari, banyak Mikir dan melakukan hal yang Melelahkan, sebenarnya bisa disebut saya sedang dimanjakan oleh Allah. Harapanku dalam hati semoga suami dan keluargaku semua sabar danmenerima kondisiku yang seperti ini.
Mengetahui kondisiku yang tidak juga membaik, kali ini benar0benar suamiku mengambil alih semua pekerjaanku, dia betul-betul memanjakanku. Aku bersyukur tak nampak sedikitpun rasa penyesalannya atas kondisiku, dia curahkan perhatiannya kepadaku, berulang kali dia ungkapkan harapannya agar aku segera pulih kemballi. Aku coba mencari - cari cara bagaimana menenagkan jiwaku agar luppy dalam tubuhku pun ikut tenag, dzikir setiap saat, membaca Al Qur;an dan sholat, tapi secara fisik dan psikis ada rasa lelah juga. Sekali waktu aku coba dengarkan lagu kesukaanku diwaktu muda dulu, kadang suami menemaniku nyanyi karaoke bersama lagu rhoma irama kesukaannya, barangkali aba dalam hatinya merasa aneh kok dalam kondisi sakit justru aku malah bernyanyi, aku fikir aba akan memarahiku, ternyata tidak, suamiku menjelaskan kepada kedua aba dan ibuku bahwa dokter menganjurkan aku lakukan apa saja yang aku suka yang membuat ku tidak stress karena memikirkan sakitku maupun tanggung jawab pekerjaanku.
Alhamdulillah kondisiku kembali membaik, meski lebam-lebam di beberapa bagian tubuh selebar telapak masih nampak disana sini, tanda luppyku belumlah menyerah.
Sore itu tiba-tiba hatiku galau, aku tatap langit senja seakan ingin aku ceritakan semua beban derita dalam dada. Namun lidahku keluh, hanya airmata yang tiba-tiba menetes, sebuah tanya terucap dalam hati:
"sampai kapan ya Rabb... "
" Beri aku kesabaran ya Allah .... "
" Beri suamiku kesabaran ya Allah ... aku butuh dirinya sebagai penyuluh hidupku... "
" aku ingin menemani si kecilku hingga dewasanya kelak .... beri aku kekuatan ya ALLAH "
Seakan aku harapkan senja kala itu akan menyampaikan pesanku kepada sang penguasa alam, Allah azza wajallah.




