MADRASAH KEHIDUPAN


IBU YANG PERTAMA MENGENALKAN CINTA DAN KASIH SAYANG, IBU YANG PERTAMA MENGAJARKAN TENTANG KEBENARAN, IBU YANG MEMBERI WARNA KEHIDUPAN, IBU MADRASAH PERTAMA KEHIDUPAN

Rabu, 23 Maret 2016

MADRASAH KEHIDUPAN -4

( Bagian - 4 )

MITOS ITU  TELAH MENGUJI IMAN KU


Hasil gambar untuk percaya mitosIslam adalah agama yang mengagungkan kebenaran yang bersumber dari wahyu Allah Ta’ala, baik dalam al-Qur’an maupun al-Sunnah. Islam juga mengagungkan ilmu dan mengharamkan berkata tanpa dasar ilmu yang benar.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ ﴾
“Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. al-Baqarah: 147)
Di antara cara berfikir yang menyimpang dari kebenaran adalah percaya kepada khurafat dan mitos, yaitu cerita-cerita bohong tentang suatu hal  yang mengandung arti mendalam dan diungkapkan dengan cara gaib. Sedangkan definisi khurafat adalah ajaran atau keyakinan yang tidak mempunyai landasan kebenaran atau takhayul.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ ﴾
“Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala." (QS, al-Mulk: 10)

Astaghfirllahal 'adhim .... semoga Allah tidak memasukkan kami dalam golongan orang - orang yang syirik. Kejadian itu pernah terjadi pada saat  satu bulan pasca kelahiran putriku. Saat itu aku merasa jenuh sebulan tidak pernah keluar rumah dan aku ingin berkunjung ke rumah nenekku yang berjarak hanya sekitar 200 m dari rumahku. Sebelumnya aku sudah mendengar jika kata orang tua bahwa ibu yang baru melahirkan sebelum bayinya berusia 40 hari tidak boleh keluar halaman rumah karena jika dilanggar maka akan ada hal buruk yang akan menimpa pada ibu atau bayinya. Dan aku juga suamiku sama sekali tidak percaya akan hal itu, bahkan kami menganggapnya sebagai kepercayaan yang mengada-ada karena bagi kami tidak ada penjelasaan yang logis dan masuk akal mengenai larangan itu. Maka, akupun berkeras mengajak suamiku untuk jalan-jalan keliling kampung sebelum mampir berkunjung  ke rumah nenekku, tentu bersama dengan putriku yang masih berumur 1 bulan.
Kami berboncengan mengelilingi kampung di jalan luar kampu di jalan perbatasan desa kami dari ujung barat sampai ke ujung timur, setelah kemudian mampir kerumah nenekku, hingga menjelang sore kami baru pulang. Selama dalam perjalanan keliling kampung dan  di rumah nenekku anakku baik-baik saja, seperti biasa dia juga masih mau menyusu dan sempat tertidur pulas. Tetapi ketika kami sampai kembali kerumah, sejak masuk pintu rumahku  tiba-tiba putriku menangis sangat keras sekali dan aku tidak bisa mendiamkan, bahkan putriku juga tidak mau aku susui. Putiku menanagis dan terus menangis hingga  hampir satu jam dia terus saja menangis, kami bingung harus berbuat apa karena kami tidak tau ini terjadi karena apa ? Ayahku segera meminta suamiku datang ke rumah kyai untuk minta air doa, tetapi itupun tidak bisa menolong. Anakku terus saja menangis hingga mungkin sampai 2 jam lebih dia terus menangis, sebelum akhirnya dia tertidur karena kelelahan.
Sejak kejadian itu, putriku sering menangis dan tidak bisa kami diamkan sampai dia kelelahan dan tertidur. Dia tidak  lagi mau minum ASI dariku, aku sedih karena mungkin dia menangis karena kelaparan ? aku tidak tau. Tetapi setiap hari, tangisan panjang putriku ini telah menjadi nyanyian pilu putriku pagi, siang, bahkan pada tengah malam hari.
Nenek dan ibuku  menyalahkan aku karena kejadian aku keluar rumah sebelum 40 hari saat itu, menurut mereka itu melanggar mitos ?! pernah kami sedikit gamang apakah benar karena kejadian itu putriku jadi tidak lagi mau menyusu ASI dariku dan selalu menangis hanya karena kami keluaar rumah sebelum 40 hari ? mengapa ?! Kata mereka apa yang aku lakukan menyebabkan putriku  "kesambet setan" di jalan disebabkan orang yang baru melahirkan sebelum 40 hari berarti masih nifas dan itu artinya belum suci sehingga mudah diganggu jin dan sejenisnya, termasuk bayi yang belum 40 hari masih kosong jiwanya sehingga masih mudah digannggu. Penjelasan itu sepertinya cukup masuk akal, tetapi kami tetap tidak percaya keadaan putriku yang demikian dikarenakan mitos dan kepercayaan masyarakat yang sudah dipercaya turun temurun tersebut.
Sejak saat itu memang putriku menjadi seperti anak yang kurang sehat, dia selalu menangis, menangis dan menangis. Akhirnya aku mencoba membawanya ke dokter, dan benar saja dokter mendiagnosis putri cantikku sedang bermasalah.  Tapi  mengapa awal kejadiannya begitu sangat tepat dengan saat aku mencoba untuk melawan mitos yang memang selama ini tidak aku percaya ? Ah mungkin itu hanyalah kebetulan saja ... atau Allah sedang ingin menguji iman kami ....?  WALLAHU A'LAM BISSOWAB

Sabtu, 19 Maret 2016

MADRASAH KEHIDUPAN - 3

 HAMIL, MELAHIRKAN DAN  MENYUSUI 
ADALAH  KEMULIAAN BAGI SEORANG WANITA


Mari kita tanyakan kepada panduan utama umat manusia yaitu Al Qur'an tentang kemuliaan dunia dan akhirat yang diberikan oleh Allah kepada  kaum wanita, maka  dalam  Al Quran disampaikan:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman: 14)

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al Ahqaf: 15)
Allah SWT yang Maha Bijaksana telah memberikan gambaran kemuliaan yang diberikan kepada seorang wanita yang dengan susah payah telah menjaga bayi dalam kandungannya, melahirkan dan merawat serta menyusuinya. Itu semua baru aku mengerti ketika aku mengalaminya sendiri. Masa-masa kehamilanku termasuk lancar tidak banyak masalah, hanya pada awal-awal kehamilan, sama seperti wanita hamil pada umunya aku ngidam jambu air yang pada masa itu tidak musimnya. Suamiku bingung harus mencarikan kemana ? dia membujukku untuk diganti dengan buah-buah yang lain saja, tetapi perasaanku tidak mau menerima meski akalku bilang kasihan suamiku. Bahkan aku sampai menangis karena keinginan yang sering disebut ngidam tersebut tidak dipenuhi. Dalam hati ada perasaan marah, kecewa, dan perasaan - perasaan negatif lainnya. Secara ilmiah aku tidak bisa menjelaskan mengapa bisa menjadi seperti itu ? menurut analisa sempitku, peristiwa ngidam  itu adalah ujian dari Allah SWT bagi ibu hamil untuk sabar karena sedang ada proses tarbiyah dalam perut sang ibu. Jika ibu dapat melalui masa-masa itu dengan sabar dan tidak mengumbar emosi akan berimbas kepada pembentukan karakter calon bayi menjadi demikian.
Dan benar saja, ketika dengan susah payah suamiku berhasil mendapatkan sebiji jambu air yang masih sangat muda dapat membuat sakit hatiku reda, ibarat disiram air es perasaan campur aduk penuh dengan emosi ingin menangis tiba-tiba hilang. Alhamdulillah, secara fisik hingga menjelang kelahiran kehamilanku sehat tidak ada kendala yang berarti.
Mendekati masa kelahiran pada usia kehamilanku menginjak usia 8 bulan, mulai ada perasaan tidak nyaman dalam hatiku. Ada rasa ketakutan yang teramat besar, akankah aku dapat melahirkan dengan selamat ? Akankah aku dapat melihat dan merawat anakku ? akankah aku akan meninggalkan  dengan suami dan anakku tanpa ibu ? pertanyaan - pertanyaan buruk tiu sungguh selalui menghantui hari-hariku. Syukurlah suamiku sangat memahami itu, dia menguatkanku, memotivasisi, meyakinkanku bahwa aku pasti akan melahirkan dengan selamat, dan akan dapat merawat anak-anak kami bersama-sama sampai tua nanti. Sungguh kata-kata yang membuatku yakin dan siap menghadapi kelahiran bayiku. Suamiku juga membimbingku untuk selalu berdoa dan berpasrah diri pada Allah SWT, karena tidak ada sesuatu yanng terjadi diluarkehendaknya, kita hanya bisa bermohon kepadanya.
Tibalah saat tanggal kelahiran anakku seperti yang diramalkan oleh dokter. Hari itu jam 13.00 aku merasakan sakit yang luar biasa diperutku yang tiba-tiba datang dan hilang, kata ibuku itulah tanda-tanda aku melahirkan. Sebelumnya sejak semalam aku sudah tidak bisa tidur karena rasa perutku yang semakin tegang dan harus sering bolak-balik ke belakang. Maka, ibu segera meminta suamiku untuk mencari mobil dan segera membawaku ke Rumah Sakit karena dokter mendiagnosa bayiku sungsang. Tepat jam 14.00 siang kami sampai di rumah sakit, diperiksa sebentar oleh dokter kandungan dan bidan,  diperkirakan jam 20.00 bayiku akan lahir, dokter menyuruhku untuk istirahat menjelang kelahiran. Namun mana mungkin bisa beristirahat ketika perut ini tiba-tiba terasa sangat sakit meskipun kemudian menghilang, itu terus terjadi hingga memasuki malam hari hingga menjelang jam seharusnya bayiku sudah lahir, aku benar-benar sudah lemah, sementra pembukaan belum berkembang dari 2 cm. Bidan terus memotivasiku untuk kuat, beliau memperkiraan kelahiran bayiku mungkin mundur 1 jam lagi harapannya jam 21.00 bayiku akan lahir, sementara aku semakin lemah. Ibuku mencoba membantu menguatkan fisikku dengan meminumkan beberapa butir telur mentah, tapi tetap saja aku merasa makin lemah. Setelah memasuki jam 9 malam pembukaan tidak juga berkembang sehingga kelahiran bayiku mungkin akan mundur 1 jam lagi, dan aku semakin tidak berdaya. Aku benar-benar pasrah. Saat itu aku merasa aku sudah tidak kuat. Aku bisikkan pada suamiku yang setia duduk disampingku " Mas .... aku sudah tidak kuat, mungkin kalau aku tidak selamat ikhlaskan, aku hanya berharap anakku selamat ..." saat itu aku sudah benar-benar pasrah jika aku tidak selamat. Sama sekali tidak terfikirkan bagaimana perasaan suamiku saat itu, aku hanya sempat melihat dia menitikkan airmata tanpa bersuara. Waktu terus berlalu, pukul 11 malam, 12 malam, masuk pagi lagi jam 1, jam 2 tidak ada perkembangan yang berarti aku sudah tidak mampu berfikir apapun kecuali hanya berdzikir berharap anakku dapat diselamatkan. Suamiku tidak lagi mampu menahan perasaannya berada disampingku, dan digantikan oleh ibuku. Tepat jam 03.00 WIB dini hari dokter menyampaikan aku harus operasi dan saat itu juga dokter meminta keluargaku segera mencari darah untuk persediaan tranfusi jika diperlukan.
Kebetulan  semua keluargaku sudah berkumpul di rumah sakit untuk mendukungku, kata suamiku tepat pukul 06 kakak iparku datang membawa darah yang diambil dari Surabaya. Sementara it di kamar bersalin dokter dan perawat segera menyiapkan aku untuk dibawa ke ruang operasi. Tapi, bersamaan dengan itu aku merasakan dorongan perutku yang teramat sangat kencang, dokter mengatakan bayiku akan segera lahir, mereka mensuport aku dengan keras karena aku sudah merasa sangat lemah. Berkali-kali  mereka  menampar mukaku karena dalam proses melahirkanku beberapa kali aku hampir tidak sadarkan diri. Meskipun demikian aku tetap berusaha dengan kuat untuk mengikuti intruksi mereka semampuku karena dokter selalu bilang kasihan anak ibu, kasihan anak ibu,  berkali kali. Kata-kata itulah yang kemudian membantuku hingga dengan pertolongan dari Allah aku berhasil melahirkan putri cantikku dengan selamat tepat  tanggal 23 Maret jam 06.00 WIB. Dan setelah bayiku lahir aku tidak ingat apa-apa lagi karena tertidur kata suamiku. Ketika aku terbangun betapa kagetnya karena seluruh tubuhku dipenuhi bercak-bercak merah kehitaman, sayang sekali dokter tidak menjelaskan sebab bisa demikian. Tetapi kami sudah sangat bersyukur, proses kelahiran yang panjang dan berat itu sudah berarkhir dan bayi mungil kami telah menghapus kelelahanku selama dua hari berjuang untuknya.
Subhanallah .... perjuangan seorang ibu mulai hamil hingga melahirkan saja sudah sangat berat, bukan saja perjuangan secara fisik. Tetapi perjuangan untuk menghilanngkan ketakutan tentang apa yang akan terjadi dalam proses melahirkan itu yang lebih berat. Suport suami akan sangat berarti dalam memotivasi dan meyakinkan istri bahwa semuanya akan baik-baiksaja. Karena banyak sekali kelahiran bayi yang hanya memakan waktu 2 sampai 3 jam. Bahkan kelahiran bermasalah yang seperti yang aku alami mungkin tidak banyak yang mengalaminya juga. Sehingga pantaslah Allah mengkaruniakan kemuliaan yang besar di dunia dan akhirat bagi wanita yang telah melalui proses hamil, melahirkan, dan menyusui sebagai bentuk sunnatullah. Subhanallah ....

Jumat, 18 Maret 2016

MADRASAH KEHIDUPAN - 2

( Bagian 2 )

ALLAH SWT TELAH MENJAMIN RIZKI SETIAP MAKHLUK-NYA 



Dalam AlQuran Surah Al Isro' ayat 30, Allah berfirman :
 








Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Al Israak 30)

Ayat tersebut memiliki makna cukup dalam sebagai bentuk semangat untuk mengejar nasib dan rizeki yang sudah ditetapkan oleh Allah. Aku dan suamiku sering berdikusi serius membedah makna ayat tersebut,  yang kemudian  melahirkan prinsip dalam pandangan kami melihat rizeki Allah sebagai bentuk kekuatan potensial yang harus diperjuangkan.  Sebaagaimana firman Allah  ta’ala :

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ -الرعد: 11-.
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. 

Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa seseorang mampu merubah nasib dengan usaha sendiri, dan dengan izin Allah Swt. Ayat ini menguatkan kami pada masa-masa sulit awaal pernikahan kami. Kami berdua belum memiliki pekerjaan yaang mapan, suamiku hanyalah seorang guru swasta dan aku baarusan lulus kuliah yang bahkan ijazahku saja belum keluar waktu itu. Tapi kami tidak menganggap ini sebagai beban yang berat, kami tetap menikmati kebahagiaan masa-masa pengantin baru kami, kami yakin Allah akan meemberikan rezeki yang cukup pada saat kami memiliki anak nanti. 
Dua bulan kemudian aku dinyatakan hamil oleh dokter, kami sangat bahagia. Untuk mempersiapkan masa depan kami bersama dengan anak-anak kami, kami membuat rencana apa yang harus kami lakukan. Aku menginginkan memiliki mesin jahit dan membuka bisnis konveksi, bisnis yang menurut kami dapat aku lakukan di rumah sambil merawat anak-anak kami, sedangkan untuk suamiku kami berharap dapat diterima sebagai PNS pada tahun itu. Pada usiaa kandunganku menjelaang 5 bulan kami mendapat informassi bahwa telah dibuka pendaftaran CPNS. Kesempataan ini tidak kami sia-siakan, karena kebetulan ijazahku sudah keluar akupun akhirnya ikut bersama ssuamiku mengikuti seleksi tes calon pegawai negeri sipil, meskipun saat itu aku tidak sungguh-sungguh ingin menjadi PNS, aku hanya berharap dalam do'aa-doaku menjelang pengumuman agar suamiku dapat diterima, karena aku sudah bulat ingin bekerja swasta saja sambil mengurus anak-anak kami. 
Bersamaan dengan itu kami mulai menabung untuk persiapan kelahiran anak kami. Yang tidaak akan pernah kami lupakan adalah kami selalu menyebut uanga yang kami miliki dengan satuan juta. Kami ingin memotivasi diri kami, kami tidak ingin lemaah dalam keterbatasan. Ketika kami memiliki uang Rp. 200.000,  kami katakan kami memiliki uang 1/5 juta, dan ketika uang simpanan kami bertambah Rp. 250.000,- kami menyebutnya 1/4 juta, ah .... begitu indah kami merasakan saat-saat itu meskipun kami hidup dalam keterbatasan. Dengan penuh keyakinan kami tetap memandang masa depan dengan optimis, Allah tidak akan membiarkan kami dan anak-anak kami kelaparan .
Tidak berselang lama akhirnya pengumuman hasil tes CPNS diumumkan, karena kehamilanku sudah cukup besar memasuki bulaan ke delapan, maka aku tidaak ikut melihat pengumuman, suamiku berangkat sendiri dengan harapan dan doa yang tidak henti aku panjatkan agar suamiku bisa diterima. sama sekali aku tidak berharap aku yang diterima. Waktu dua jam terasa begitu lama menungguh kedatangan suamiku membawa kabar gembira itu. Sambil terus bertasbih dalam hatiku aku terus bermohon agar suamiku lulus, lulus dan lulus.
Alhamdulillah, suamiku datang dengan wajah kebahagiaan. Harapan itu semakin besar, pasti suamiku berhasil diterima menjadi PNS. Ternyata tidak, aku justru sedih mendengar berita yang dia sampaikan dengan mata berkaca-kaca, dia gagal tetapi aku justru yang diterima masuk menjadi CPNS disebuah SMP. Berita itu membuat aku sedih, aku bersyukur karena Allah telah memberikan jalan untuk rizki kami, tetapi bukan ini yang aku kehendaki, aku inginkan suamiku yang berhasil, aku inginkan suamiku yang berada didepanku, biarlah aku tetap berada dibelakangnya untuk mensuport dan mendukungnya. tetapi Allah berkehendak lain.
Aku tidak bisa bayangkan betapa sangat sedihnya suamiku, tapi itulah kehendak Sang Penguasa Hajat Allah SWT, pasti Dia tahu yang terbaik untuk kami, pasti Dia telah memberikan yang terbaik untuk kami. Kami semakin yakin bahwa inilah Rizeki yang telah disiaapkan oleh Allah untuk anak kami. SUBHANALLAH .....

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لا يزيد في العمر إلا البر، ولا يرد القدر إلا الدعاء، وإن الرجل ليحرم الرزق بخطيئة يعملها

“Tidaklah ada (amalan) yang dapat menambah umur kecuali berbuat bakti, tidaklah ada (amalan) yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan sesungguhnya seseorang itu terhalang (dari kelapangan) rezeki karena kesalahan yang dia lakukan.” [HR Ibnu Majah (90). Hadits hasan - See more at: http://dakwahquransunnah.blogspot.co.id/2013/08/apakah-takdir-dapat-berubah.html#sthash.r4knfS8T.dpuf
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لا يزيد في العمر إلا البر، ولا يرد القدر إلا الدعاء، وإن الرجل ليحرم الرزق بخطيئة يعملها

“Tidaklah ada (amalan) yang dapat menambah umur kecuali berbuat bakti, tidaklah ada (amalan) yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan sesungguhnya seseorang itu terhalang (dari kelapangan) rezeki karena kesalahan yang dia lakukan.” [HR Ibnu Majah (90). Hadits hasan - See more at: http://dakwahquransunnah.blogspot.co.id/2013/08/apakah-takdir-dapat-berubah.html#sthash.r4knfS8T.dpuf

Ayat terdekat yang bisa menjelaskan tentang pertanyaan anda adalah firman Allah ta’ala:

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfuzh).” [QS Ar Ra’du: 39] - See more at: http://dakwahquransunnah.blogspot.co.id/2013/08/apakah-takdir-dapat-berubah.html#sthash.s4BDTcTc.dpuf
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لا يزيد في العمر إلا البر، ولا يرد القدر إلا الدعاء، وإن الرجل ليحرم الرزق بخطيئة يعملها

“Tidaklah ada (amalan) yang dapat menambah umur kecuali berbuat bakti, tidaklah ada (amalan) yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan sesungguhnya seseorang itu terhalang (dari kelapangan) rezeki karena kesalahan yang dia lakukan.” [HR Ibnu Majah (90). Hadits hasan - See more at: http://dakwahquransunnah.blogspot.co.id/2013/08/apakah-takdir-dapat-berubah.html#sthash.r4knfS8T.dpuf

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لا يزيد في العمر إلا البر، ولا يرد القدر إلا الدعاء، وإن الرجل ليحرم الرزق بخطيئة يعملها

“Tidaklah ada (amalan) yang dapat menambah umur kecuali berbuat bakti, tidaklah ada (amalan) yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan sesungguhnya seseorang itu terhalang (dari kelapangan) rezeki karena kesalahan yang dia lakukan.” [HR Ibnu Majah (90). Hadits hasan - See more at: http://dakwahquransunnah.blogspot.co.id/2013/08/apakah-takdir-dapat-berubah.html#sthash.r4knfS8T.dpuf

Kamis, 17 Maret 2016

MADRASAH KEHIDUPAN - 1



(Bagian 1 )
ALLAH SUDAH MENETAPKAN JODOHKU


 
 Semua orang Islam tentu tidak asing dengan pandangan bahwa pasangan hidup –baik suami mupun isteri– setiap manusia sudah ditetapkan oleh Allah swt, pandangan tersebut disandarkan kepada dalil-dalil berikut :

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ [الروم/21]

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian isteri-isteri dari diri kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar-Rum [30]: 21)
 

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ [النحل/72]

“Allah menjadikan bagi kalian isteri-isteri dari diri kalian dan menjadikan bagi kalian dari isteri-isteri kalian itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka Mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?.” (QS. An-Nahl [16]: 72)
Dan itulah yang terjadi, sebelum kami menikah aku dan suamiku sama- sekali tidak pernah saling bertemu apalagi saling mengenal, meskipun sebenarnya dia masih ada hubungan saudara dengan keluarga kami. Ayah suamiku sepupu dari ayahku semestinya hubungan persaudaraan ini tidaklah jauh. Suamiku juga bercerita setiap lebaran dia selalu datang ke rumahku tapi tidak pernah melihatku demikianpun denganku. Rumah kamipun tidak terlalu jauh orang tua kami sering saling berkunjung, tapi anehnya kami justru tidak saling mengenal. Mungkin hal itu terjadi karena sejak SMA kami sudah bersekolah di luar daerah kami. Saya melanjutkan study di Surabaya dan suami di kota yang lain juga, demikian pula saat kami kuliah saya memilih kulaih di Malang dan suami di Semarang. Jarak yang cukup jauh untuk saling kenal. Semasa sekolah tidak sedikit juga teman-teman yang mendekati kami, menyediakan diri untuk menjadi “teman dekat” kami, tapi tidak satupun yang menarik hatiku sehingga  membuat aku berfikir untuk menjalin hubungan serius dengan salah satu teman yang mendekatiku, ternyata pun demikian dengan suamiku, berbekal  wajah yang tampan ( menurutku sih !?) dan  sebagai aktifis senat pada masa itu dia cukup popular tetapi tidak satupun mahasiswi yang mampu meluluhkan hatinya untuk mendapat pernyataan cintanya, meskipun pada saat itu dia bisa memilih yang tercantik atau yang terpandai, tapi hatinya belum terbuka saat itu. Sampai kami sama-sama lulus, kami masing-masing masih sendiri.
Suamiku lulus setahun lebih awal dariku, setelah lulus dia bekerja di yayasan orang tuaku, saat itu aku semester akhir tinggal menunggu yudisum, sehingga aku banyak waktu untuk pulang kerumah diselah kekosongan kuliahku. Saat itulah aku  mulai mengenalnya, kami benar-benar cocok, kami sering berdiskusi banyak hal, kami bisa bercanda tentang apapun, dan saat itulah  aku merasa aku mulai merasakan sehati, dan ternyata perasaan kami sama kami saling merasa cocok. Dan orang tua kami segera tahu dan segeralah kami menikah tidak lebih dari empat bulan setelah dia menyatakan niatnya untuk menikah denganku. Subhanallah Allah telah memilihkan jodoh terbaik untukku. Semasa kuliah pada saat semua teman kuliahku jalan bersama pasangannya masing-masing pada saat itu, aku hanya berfikir apakah nanti aku akan menemukan jodohku ? Kenapa aku tidak merasa tertarik pada teman-teman yang mencoba mendekatiku ? hanya ada satu keyakinan pada saat itu bahwa Allah telah menetapkan jodohku  pasti Dia akan mempertemukanku dengan jodohku pada suatu saat nanti, dan pasti dia adalah yang terbaik menurutNya karena aku selalu minta jodoh yang terbaik untukku didunia dan akherat, yang dapat membimbing dan menjadi imamku. Dan semuanya terbukti …. Subhanallah …… Suamiku adalah Imamku, Sahabatku dan Kekasihku terbaik .....