MADRASAH KEHIDUPAN


IBU YANG PERTAMA MENGENALKAN CINTA DAN KASIH SAYANG, IBU YANG PERTAMA MENGAJARKAN TENTANG KEBENARAN, IBU YANG MEMBERI WARNA KEHIDUPAN, IBU MADRASAH PERTAMA KEHIDUPAN

Kamis, 14 Februari 2019

Butterfly 3


       Untuk beberapa  minggu   pertama, obat dokter membuatku  terlelap hampir sepanjang hari, sama sekali ku tak mampu berfikir tentang sesuatupun,  apalagi  melakukan apapun. Kuhabiskan waktuku hanya dengan tidur saja. Mungkin itu bagian dari terapi yang harus aku lalui karena sebelumnya penderitaan dari penyakit ini sungguh sangat menyiksa; insomnia, pusing kepala yang tiada henti, sakit disekujur tubuh dan persendianku serta diare yang terus menerus.
       Namun, setelah terapi obat selama beberapa minggu itu keadaanku menjadi lebih baik, terutama aku sudah tidak diare lagi. Meskipun, keluhan yang lain tidak lantas sirna begitu saja.  masih sakit nyeri hampir di sekujur tubuhku, ngilu dipersendianku, serta pusing kepalaku. Meskipun demikian, keadaan itu coba tidak  aku bagi dengan orang-orang terkasih suami, anak-anak, serta orang tuaku. Aku tidak ingin mereka menjadi sedih karena  tahu penderitaanku, aku tidak ingin mereka ikut merasakan nyeriku, biarlah kunikmati karunia indah ini sendiri bersamaNya kekasih abadi tempat curahan hatiku Allah Sang Maha Kasih. Hanya kepadaNya lah aku mengeluh, hanya kepadaNya lah kucurahkan rasa sakitku, hanya kepadaNya lah aku tumpahkan seluruh air mataku, biarlah cobaan ini hanya untukku.
       Memasuki minggu kedua, aku sudah mulai terfikir tentang bagaimana dengan pekerjaanku, bagaimana aku melakukan pekerjaan rumahku, bagaimana aku harus mengantar sekolah anakku, bagaimana aku  harus pergi ke kantorku ? larangan terpapar cahaya matahari memaksaku untuk mengambil keputusan aku harus mengubah gaya penampilanku. Aku jelas tidak berharap pergi kemana-mana membawa payung, seperti tukang kredit keliling. Lalu bagaimana aku harus melindungi tubuhku dari paparan cahaya matahari, padahal kerjaku harus aku lakukan pagi sampai sore hari ? Sempat aku browsing di internet mungkin ada gaya busana khusus untuk odapus  , tetapi ternyata tidak kutemukan. Kebanyakan mereka masih menggunakan gaya busana biasa dengan bermasker dan kaos tangan dan kaos kaki lengkap saat keluar rumah,  serta sunblock atau  payung sebagai pelindung utamanya.
       Tapi style yang seperti itu aku rasa  kurang menarik bagiku, karena selama ini aku termasuk orang yang sangat perhatian terhadap gaya busana bahkan kadang  sering menjadi rujukan gaya busana teman-temanku dan tidak jarang kemudian menjadi tren di lingkungan sekitarku. Setelah berdiskusi dengan suami dan keluargaku, mereka tidak keberatan aku mengambil keputusan mengganti gaya busanaku dengan gaya busana muslimah bercadar lengkap dengan kaos kaki dan handset untuk meminimalisir paparan matahari ke kulitku.
Orang tua dan suamiku justru sangat mendukung, bahkan beliau bilang akan merasa bangga istrinya bisa bergaya syar’I seperti itu, namun dia mensyaratkan cadar atau burkah dipakai saat di luar ruangan saja, ketika masuk atau berada dalam ruang dan mengajar cadarku harus aku lepaskan, tentunya syarat itu sangat tidak masalah bagiku.
Aku mulai memesan beberapa baju secara online, aku coba memakainya dan aku bersyukur ternyata aku lebih merasa  nyaman dengan busana model baruku ini. Putriku mengirimkan beberapa burkah dan cadar yang dia beli dari uang sakunya, putriku sangat support dan mendukung gaya berbusanaku, dia katakan ibundanya lebih keren dengan gaya busana ala syari seperti itu, dia selalu katakan “Allah telah memberikan karunia indah pada ibuku “ ujarnya mencoba memberi semangat kepadaku melalui whatsApp  pada suatu waktu.
        Seperti dugaanku, pada awal – awal aku tampil dengan penampilan baruku ini, banyak yang memandang sinis, dan bahkan  tidak mengenali diriku. Rasanya sedih juga, ketika orang-orang dekat yang aku kenal tiba-tiba enggan menyapaku. Belum lagi dengan siswa-siswaku yang selalu bertanya “Mengapa ibu guru berbusana demikian ?, tapi biarlah aku tidak perlu menjelaskan pada mereka,  akhirnya toh mereka juga akan terbiasa dengan gayaku.
       Bersyukur kepala sekolahku bisa memahami keadaanku, dan memberikan ruang khusus untukku mengajar, yaitu ruang multimedia dimana siswa yang akan mendatangi kelasku untuk belajar, sehingga aku tidak perlu naik ke lantai 2 mendatangi kelas-kelasku, karena  kondisi fisikku memang belum siap untuk beraktifitas sebagaimana biasa.
Kepalaku masih sering terasa pusing dan berat, kurasakan keseimbangan tubuhku masih belum normal, masih sering terasa pandangaku berputar dan tubuhku sempoyongan. Tapi aku tidak bisa meninggalkan tugasku terlalu lama, karena kasihan pada siswa-siswiku jika mereka harus ketinggalan pelajaran karena kondisi sakitku. Aku hanya berharap dengan terapi yang akan kujalani ini, aku bisa menjadi lebih baik dan terus lebih baik sehingga  dapat kembali beraktivitas sebagaimana biasanya.
       Sungguh dalam keadaan demikian,  aku hanya bisa ucapkan syukur dan syukur kepada Sang Penguasa Alam Allahu Robbi, aku merasakan kasih sayang Allah yang teramat besar telah dicurahkan kepadaku. Allah SWT telah betul-betul menjadikanku takluk tanpa daya dihadapan kekuasaanNya. Aku yang selama ini telah  sombong merasa dapat melakukan banyak hal, dapat mensiasati setiap keadaan yang terjadi padaku karena kemampuanku dan kecerdasanku, merencanakan dengan sempurna masa depanku, anak-anak dan keluargaku, sungguh kini aku tahu, aku sadar, aku malu, Allah telah menunjukkan keterbatasanku sebagai manusia yang fana, yang hanya mampu membuat rencana. Astaghfirullahal ‘adhim,  sungguh aku telah hilaf, aku telah salah, tidak ada sesuatupun yang dapat aku lakukan tanpa RidloNya, tiada sesuatupun terjadi tanpa kehendakNya, maka tiada pilihan lain bagiku sebagai manusia yang sangat fana ini kecuali ikhlas, dan bersyukur atas nikmat yang telah dikaruniakanNya kepadaku, hingga detik inipun aku masih dapat bernafas, aku masih dapat melihat hamparan ciptaanNya, masih merasakan aroma embun pagi disetiap terjaga dari tidur malam yang kadang terasa panjang, serta masih merasakan indahnya kehangatan berkumpul dengan orang-orang terkasih keluargaku.
        Pada titik terendah hidupku ini aku hanya mampu memohon dan  berserah diri kepadaNya. Berharap untuk diberikan kekuatan, kesabaran, kesembuhan dan umur panjang yang manfaat dan barokah atas RidhoNya.

Yaa Rabb …..
DihadapanMu aku tersimpuh….
Dalam KuasaMu yang tanpa batas itu ….
Dalam kerapuhan diriku di hadapanMu …
Kubersujud, menyerah, pasrah, dengan segenap rasa malu …
Karena  lama ku rasa diriku telah mampu menulis sendiri cerita hidupku …
Ku buat rencana seakan lebih indah dari skenario yang telah Kau tetapkan  bagiku
Ku tersimpuh …
Bagai sebutir debu …
Dengan segenap rasa malu aku mengaku …
Tak mampu ku tulis sesuatu untuk hidupku selain tulisan IndahMu …
Ku pasrahkan diri hanya akan mengikuti goresan takdirMu …
Kuyakin aku akan mampu …
Menjalani cerita hidupku ini dariMU …
Bersama ridloMu ...

Bersambung ....

Butterfly 2


“ Sabar dik, kita akan lalui ini bersama … jangan takut jangan sedih, kata dokter insyaallah akan bisa diatasi dengan terapi “ kata suamiku seakan ingin menghapus dukaku dengan menggenggam erat tanganku, sepertinya dia hendak menyalurkan energi dan semangatnya padaku. Namun tetap saja, tak mampu kutahankan airmataku yang terus deras mengalir. Seakan hilang semua harapanku, luruh semangatku, hampa anganku. Aku bagaikan  akan melangkah ke padang gersang yang penuh dengan duri yang sewaktu-waktu akan menyakitiku dan mengakhiri hidupku.
Vonis dokter tersebut benar-benar aku rasakan  telah melumpuhkan otot-ototku yang memang sudah lemah, memporak porandakan bayangan kehidupanku yang sudah aku rencanakan dengan cermat, itulah bukti kuasa Tuhan Yang Maha Berkehendak Allah SWT. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, apa yang bisa aku perbuat ?
Sesaat setelah dokter menjelaskan penyakit yang aku derita dengan detail pada suamiku, aku terdiam seribu bahasa, hanya air mata yang tak kuasa aku tahankan meleleh begitu saja. Meskipun dokter hanya memberikan tiga larangan pokok dalam menghadapi penyakitku, yang beliau sebut dengan istilah “3K” yaitu larangan Kepanasan, Kelelahan, dan Kepikiran. Namun itu cukup membuatku sesaat kehilangan arah hidupku yang selama ini tentu sangat erat dengan ketiga hal tersebut, sebagaimana manusia normal lainnya. Bagaimana aku beraktifitas tanpa terpapar sinar matahari, bagaimana aku tidak boleh lelah, bagaimana aku tidak boleh banyak berfikir. aku memiliki tugas dan kegiatan yang harus aku lakukan setiap pagi hingga sore hari yang sangat terkait dengan ketiga larangan tersebut? Sesaat aku rasakan diriku seperti telah bermutasi menjadi makluk lain yang hidup di dunia lain.
Sungguh kuasaMu Maha tak tertandingi Yaa Rabbul Izzati, pasti skenario yang telah Engkau tulis indah untukku,   aku benar-benar tidak berdaya, pasrah,  menyerah, tak mampu membuat rencana, pun merangkai harapan apapun. Aku lunglai, suamiku terus saja bicara mencoba menguatkanku, terus berusaha menghiburku, memotivasiku diantara derai air mataku yang tak jua mau berhenti, meskipun sudah aku coba untuk menahan diri dan menerima semuanya sebagai bagian dari takdirku.
Akupun tahu suamiku pun hancur, raut mukanya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya dalam polesan senyum yang dia coba buat untukku, tapi meskipun demikian aku bersyukur memiliki pendamping yang bisa menjagaku, mendampingiku dengan setia dalam setiap keadaanku. Semoga dia akan selalu ada disisiku sampai kapanpun dalam keadaan apapun diriku.
Satu kalimat yang tertuang dalam setiap alunan doaku adalah agar kami diberi kekuatan dan kesabaran menghadapi takdir indah dari sang Maha Kuasa yang telah dihadiahkan untukku.
Sedihku terasa telah sampai pada titik jenuhnya, hingga tak mampu lagi kurasakan kecuali kemudian selalu berusaha untuk berprasangka baik  bahwa ini adalah bentuk kasih sayang Allah SWT  kepadaku.  Kasih sayang Allah yang sangat besar sedang dicurahkan kepadaku, Allah inginkan aku menjadi orang yang super sabar, dan  bersih dari dosa pada akhir hidupku dengan rasa sakit yang akan terus aku coba tahankan dan sabarkan, serta kekuatan yang akan terus aku mohonkan. Kasih sayang Allah bersama Lupusku, kasih sayang Allah bersama pusing di kepalaku, bersama nyeri-nyeri tulangku, bersama kram otot yang setiap saat aku rasakan. Allah sungguh telah menunjukkan kasih dan cintaNya yang teramat besar padaku. Bersama setiap nyeriku terucap dzikir dan istighfar yang tak henti aku ucapkan, bersama pusing kepalaku kucoba alihkan dengan menikmati alunan ayat suci Al Qur’an dari HP ku, sungguh aku mulai melihat sakitku sebagai bentuk karunia indah yang telah mendekatkanku selalu padaNya.
Lupus sang kupu-kupu cantik jangan ditaklukkan, demikian dari banyak cerita teman dan litaratur yang sudah aku baca, tapi cobalah berdamai dengannya, karena dia akan selalu menemanimu selamanya. Mulailah mengenal karakternya, mulailah mengenal alarm kedatangannya, mulai mengenal apa yang bisa mengusiknya, dan mendamaikannya kembali. Berdamailah dengan tiga hal yang akan membuatmu melupakan sang kupu-kupu sedang ada bersamamu, tiga hal yang sederhana namun prinsip dalam kehidupan setiap makluk, yaitu hiduplah dengan bahagia, jangan lagi bekerja keras, dan mulai belajar pola hidup “vampire”  menghindari paparan sinar matahari atau kamu akan terbakar oleh sinarnya yang menyakitkan.
“Mulai saat ini aku akan bersahabat dengan sang kupu-kupu manis si luppy …” janjiku dalam hati.

Bersambung ....

Butterfly - 1

KARUNIA “INDAH” DARI TUHAN

Oleh : Ummu Syafirah

Hari itu adalah hari yang bersejarah dalam hidupku karena pada hari itulah Allah SWT telah tampakkan tulisan  takdirku, pada hari itu telah terjadi deklarasi perubahan kehidupanku, identitasku sebagai manusia dengan pola kehidupan normal segera berakhir. Aku bukan lagi manusia biasa, tetapi sejak hari itu aku adalah  manusia dengan takdir istimewa yang dipilih oleh Allah untuk menerima anugerahNya, anugerah menjadi seorang “Odapus” yaitu seorang penyandang lupus, Subhanallah. 
Anugerah  indah dari Allah SWT dengan gelar baru menjadi seorang Odapus pada awalnya tidaklah mudah aku terima, gelar istimewa  bak gelar seorang “ratu”, yang hanya dianugerahkan kepada orang-orang istimewa yang dipilihNya termasuk diriku, yang harus mendapat perlakuan istimewa, dengan tiga hal pokok yang telah ditetapkan untuk aku terima sebagai pembiasaan sepanjang hayatku dan demikianpun harus dapat diterima  keluarga dan orang-orang dekatku. Sejak saat itu diriku tidak lagi bebas keluar rumah maupun berada ditempat terbuka selama matahari masih bersinar terang menampakkan cahaya dan memancarkan sinarnya. Sejak saat itu, aku juga harus selalu bahagia, sungguh anugerah yang indah karena kebahagiaan adalah keinginan dasar semua umat manusia, stress menjadi pantangan utama bagiku yang tidak boleh terjadi padaku, dan sejak saat itu pula, secara fisik aku tidak boleh lelah, tidak boleh mengerjakan pekerjaan yang dapat membuatku semakin kehilangan dayaku.
Takdirku membawaku bagaikan seorang “Ratu” dalam istana yang megah dengan ratusan pelayan yang siap melayaniku setiap saat aku butuhkan dan dayang-dayang yang dapat menghibur diriku setiap waktu. Atau, diriku menjadi bagaikan “Batu Pualam” yang harus disimpan dalam bejana  kaca nan indah, yang hanya bisa disentuh dengan setuhan lembut kasih sayang, dan dijaga selalu dengan sepenuh kasih karena nilainya yang tak ternilai. 
Tapi, siapa yang akan dapat melayaniku bak seorang “ratu” ? siapa yang dapat menjagaku bagaikan “batu pualam” dalam bejana kaca itu ? 
Aku hanyalah wanita biasa, yang setiap pagi harus bangun lebih awal menyiapkan sarapan untuk anak-anak dan suamiku, mencuci dan membersihkan rumah sebelum berangkat ke tempat kerja. Aku hanyalah wanita biasa yang harus pergi ke pasar, mengantar anak sekolah, mengajar mengaji anak-anak sekitar kampungku, dan masih banyak aktifitas yang sehari-hari harus aku lakukan. Aku bukanlah “ratu” atau wanita kaya “sosialita” yang serba berkecukupan dengan mobil pribadi dan sopir yang siap mengantar kesana kemari sehingga tidak perlu bertatap pandang dengan mentari. Aku hanyalah wanita kampung biasa, yang hari-hariku bersahabat dengan matahari, berteman dengan letih, dan kadang berselimutkan duka dan kesedihan. Bagaimana aku harus jalani hidupku setelah detik ini ? batinku menangis saat itu.  
Tentu dengan kondisiku yang seperti itu,  aku hanya mampu berharap  orang-orang terkasihku, suamiku dan anak-anakku dapat memahami kondisi istimewaku, dan siap mendampingiku melewati hari-hari yang tentu tidak akan mudah bagiku dan juga keluarga terdekatku. Namun, sampai kapan mereka akan kuat dan sabar mengayuh derita bersamaku, bersama lupus yang selalu akan menemaniku ? 
Sudah lama sebenarnya aku mendengar penyakit aneh ini, yang aku tahu dia juga memiliki  julukan aneh sebagai “penyakit seribu wajah” karena gejalanya yang dapat menyerupai gejala berbagai macam penyakit, dia juga sering dijuluki  dengan  butterfly atau kupu-kupu cantik karena satu-satunya gejala spesifik yang nampak secara fisik adalah timbulnya ruam merah di pipi dan hidung yang menyerupai kupu-kupu,  yang sekarang justru menjadi gaya atau trend berdandan remaja masa kini.
 Takdir yang kemudian menjadikanku tertarik dan respek dengan penyakit kupu-kupu ini sebelum aku sendiri divonis mengidapnya. Ketika di rumah sakit atau dimana saja aku berjumpa dengan seseorang yang bercerita mengidap penyakit ini, maka aku segera “kepo” mencercah dengan banyak pertanyaan tentang bagaimana awal kejadiannya, bagaiamana rasanya, sampai apa yang sudah mereka lakukan sebagai upaya untuk sembuh ? dan seperti julukan penyakit lupus ini  sebagai penyakit seribu wajah benar adanya, karena mereka memiliki cerita yang berbeda satu dengan yang lainnya, masing – masing  memiliki cerita tentang gejala dan apa yang dirasakan  berbeda antara satu dengan yang lainnya, namun pada umumnya mereka sama-sama memiliki gejala munculnya “humairoh” atau ruam merah dikedua pipinya seperti  julukan yang diberikan  Rosulullah SAW kepada  Aisyah ra sang istri tercinta.
Pada umumnya para odapus termasuk diriku didiagnosis penyakit ini setelah melewati masa bertahun-tahun berobat untuk sebuah penyakit yang tidak jelas diagnosisnya tetapi nyata kami rasakan. Tidak sedikit  yang kemudian diantara kami  menyerah dan terpaksa meyakini bahwa sakit yang dideritanya adalah sakit karena guna-guna dan sebab magis lainnya, karena secara fisik gejala yang dirasakan oleh penderita tidak didukung oleh data medis, dengan tidak ditemukan dalam hasil tes positif yang dilakukan oleh dokter yang dapat mendukung ditegaknya diagnosis terhadap suatu penyakit tertentu. Atau, kalaupun dokter sudah mendiagnosis mengidap penyakit tertentu tetapi tidak berujung pada kesembuhan setelah bertahun-tahun dilakukan pengobatan tapi malah justru semakin bertambah parah, seperti halnya diriku yang hampir tujuh tahun dalam perawatan sakit lambungku, dan tidak juga sembuh. 
Lupus sang kupu-kupu cantik bisa muncul menyerupai gejala sakit apa saja, seperti lambung, ginjal, jantung, paru-paru, gatal-gatal yang tidak berkesudahan, kulit bersisik, luka yang tidak sembuh sampai bertahun-tahun dan lain sebagainya, sesuai dengan julukannya penyakit “ seribu wajah”. Dengan kondisi demikian banyak diantara mereka sebelum terdeteksi terkena lupus  sudah prustasi, tidak hanya karena sakitnya, melainkan yang lebih berat dari itu adalah kepercayaan keluarga terhadap dirinya yang semakin  terkikis sedikit demi sedikit dan menganggap mereka hanya mencari perhatian dan manja saja, sehingga banyak diantara mereka yang kemudian tidak melanjutkan pemeriksaan dan lebih percaya kepada pengobatan alternative yang tidak rasional seperti dukun. Ataupun ketika mereka masih ada yang memiliki  kekuatan untuk berikhtiar kadang keadaanpun sudah terlambat ketika  terdiagnosis Lupus. Lupus sudah menyerang organ-organ vitalnya sehingga sebagian organ dalam tubuh sudah mengalami kerusakan. 
Bersyukur bagi yang kemudian Allah segera menunjukkan jalannya, sehingga sebelum benar-benar terlambat lupus segera terdeteksi di dalam dirinya, sehingga bisa mendapatkan penanganan medis yang lebih cepat, sehingga dengan demikian harapan akan pulih  kembali atau  “sembuh”  dan hidup selayaknya orang normal lainnya dengan tidak lagi menkonsumsi obat ( remisi ) akan semakin besar, seperti halnya diriku. 
Aku tidak sengaja dipertemukan Allah dengan dokter Heri Eko Subiyanto, dokter spesialis dalam yang menemukan lupus ada dalam diriku. Karena hampir tujuh tahun aku menjadi pasien dokter penyakit dalam yang lain di rumah sakit yang sama untuk perawatan lambungku tetapi tidak juga sembuh, dan belakangan justru semakin parah. 
Pada saat aku benar-benar merasakan sakit lambungku sudah tidak dapat aku tahankan karena sudah hampir satu bulan tidak dapat mengkonsumsi makan apapun selain kentang dan bubur. Sudah terbersit niat untuk melakukan second opinion ke dokter yang lain, namun aku ragu dan mengurungkan niatku. Akhirnya pada hari itu aku tetapkan akan periksa kembali ke dokter penyakit dalam yang selama ini sudah menanganiku. Namun kuasa Allah, hari itu dokterku berhalangan hadir karena suatu urusan, sehingga karena sakit yang aku rasakan aku mengambil keputusan tetap periksa ke dokter penyakit dalam yang ada pada hari itu, yaitu dr. Heri Eko S. yang kemudian membawaku ke lupusku ini. Penyakit yang belum ditemukan sebab dan cara pengobatannya, ini adalah “hadiah indah” dari sang Khalik untukku yang akan bersamaku selama hidupku.
Waktu itu hari sabtu, bersyukur suamiku mau menemaniku menemui  dokter,  tidak seperti biasanya setiap mengantar aku ke dokter dia  lebih suka memilih tiduran saja di dalam mobil sambil dengarkan musik untuk menghilangkan kejenuhannya. Bersyukur pada hari itu suamiku setia menemaniku, sampai tibalah giliranku masuk ke ruang konsultasi dokter. Bersama suamiku aku segera masuk ruang dr Heri Eko yang menerima kami dengan sangat ramah,  beberapa hal ditanyakan dokter untuk menegakkan diagnosanya termasuk sejak kapan mulai sakit, apa yang aku rasakan, dan banyak lagi. Aku ceritakan semua tentang perutku yang tidak bisa masuk makanan apapun, tangan-tangan dan kaki-kakiku yang mulai kebas dan kesemutan, kepalaku yang selalu tegang spt terserang vertigo, dan sakit tidak terkira, badanku yang selalu panas dan sering tiba-tiba meras lemas, bahkan berkali-kali mendadak pingsan. Sementara itu, dengan seksama dokter hanya mendengar celotehanku dan memandang tajam mukaku, seakan beliau menemukan sesuatu yang aneh di mukaku. 
Dan benar saja, dokter meminta suamiku mendekat dan memperhatikan mukaku, dia menanyakan beberapa bagian mukaku yang katanya berwarna kemerahan di bagian pipi dan hidungku, dokter juga meminta suamiku membandingkan warna kulit di pipiku dengan warna kulit disisi yang lain, aku tidak faham apa maksud dokter melihat warna mukaku ? apa hubungan dengan sakit lambungku ?. Selanjutnya dokter memintaku membuka mulut dan memeriksa mulut dan lidahku yang memang sudah hampir satu bulan ini terasa sangat keluh dan hampir selalu berasa pahit. 
Sayangnya, selesai pemeriksaan  dokter tidak menjelaskan apapun pada kami  tentang dugaan penyakit yang aku derita. Dokter hanya meminta aku untuk tes darah ke Surabaya dengan menyodorkan surat pengantar pemeriksaan laboratorium. Dan meminta kami datang seminggu kemudian dengan membawa hasil tes laboratorium yang disarankan tersebut. Pulang dari Rumah Sakit tak henti aku ucapkan doa dan harapan dalam hati  semoga tidak ada sakit serius yang aku derita, meskipun pikiranku mulai kalit takut diagnosis yang disembunyikan dokter mengarah ke lupus yang selama ini aku tahu memiliki satu tanda adanya ruam merah di pipi dan hidung menyerupai  kupu-kupu. 
Hingga tibalah sudah hari Rabu seminggu kemudian, dimana aku harus kembali menemui dokter dan menyerahkan hasil tes darahku yang sudah keluar, sesuai dengan perjanjianku dengan dokter Heri Eko S. untuk mendapatkan diagnosis sakitku. Dengan membawa hasil laboratorium yang sama sekali aku tidak fahami dan mengerti apa isinya meskipun sudah aku buka dan aku baca terlebih dahulu berulang-ulang. 
Aku segera menemui dokter sesuai dengan nomor urutanku, dokter menjelaskan sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium yang disebutkan dalam laporan hasil tes yang disebut “Ana Test” itu. Hasil tes yang berupa secarik kertas yang berisi  deretan panjang penjelasan dalam bahasa inggris dan medis yang sama sekali aku tidak fahami. Dari hasil ana test tersebut dokter mendiagnosis aku positif terkena autoimun atau yang oleh orang awam sering disebut dengan Lupus. Selanjutnya dokter menyarankan aku  untuk menginap di rumah sakit beberapa hari untuk terapi awal dan mengadakan tes darah lanjutan, yang kemudian mengarahkan aku ke  SLE ( Systemic Lupus Erythematosus) atau sering disebut  dengan “Lupus” saja.
Saat mendengar diagnosis dokter pertama kali tentang penyakitku, aku langsung tertunduk, tak terasa bulir air mata telah deras mengalir tak terbendung di pipiku, tidak lagi aku dengar dokter berkata apa untuk coba menghiburku, yang kurasa hanyalah kesedihan yang tak terukur setelah aku di vonis oleh dokter menderita penyakit yang selama ini aku takutkan yaitu Lupus sang kupu-kupu itu. 
Dokter selanjutnya memanggil suamiku untuk memberikan penjelasan yang lebih detail terkait dengan penyakitku, dokter menyatakan yang aku derita sebenarnya bukan penyakit seperti pada umumnya yang di sebabkan oleh bakteri, virus dan lainnya, namun penyakit yang aku derita saat ini adalah karena telah terjadi kesalahan system imun dalam tubuhku sehingga antibody yang mestinya menjadi pelindung tubuhku justru menjadi semacan srigala yang sewaktu-waktu dapat merusak organ-organ dalam tubuhku sendiri, yang disebut dengan autoimun, yang secara medis belum ditemukan penyebab dan cara-cara penyembuhannya. Sungguh sangat tidak menduga akhirnya aku juga harus mengalami deritanya. 
Mau tidak mau aku harus terima takdirku, Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus  mulai sekarang resmi aku derita dan bersarang dalam tubuhku, dia dapat menyerangku  kapan saja karena system imun tubuhku yang sudah tidak lagi dapat mengenali organ-organ yang harus dilindungi, namun justru menjadi ancaman besar bagi tubuhku sendiri. Kini aku tidaklah seperti yang dulu, energik dan tidak pernah bisa diam, selalu ada saja aktifitas yang aku lakukan pada hari-hariku. Saat ini, aku tidak lagi memiliki daya, mudah lelah dan tidak dapat bekerja keras, ngilu hampir disekujur tubuh setiap saat, otot yang melemah dan mudah kram, kepala pusing yang berkepanjangan, sungguh “anugerah” yang harus aku terima dengan ikhlas dan sabar. Aku tidak menyangka, sakit lambung yang sudah aku derita hampir tujuh tahun, yang berkembang menjadi sakit kepala dan kadang sakit disekujur tubuhku ini,   merupakan gejala penyakit lupus yang divoniskan kepadaku pagi itu.

Bersambung

Jumat, 23 Februari 2018

Madrasah Kehidupan 8

SEMUA UJIAN DARI ALLAH DAN ALLAH SWT PULALAH YANG AKAN MEMBERI PERTOLONGAN


Ceita dalam kehidupan sikih berganti terjadi, ada saatnya kita diuji dengan kesusahan, kesedihan yg teramat dalam, kegembiraan bahkan kebahagiaan. Semuanya akan datsng  Silih berganti mewarnai hidup kita.
Setelah ujian panjang yang kami alami dengan sakitnya putri kami sejak kelahirannya, kami tetap terus berusaha bersabar dan bertahan dengan sebuah keyakinan bahwa penderitaan yang kami alami pasti akhirnya akan berakhir. Dan benar terjadi, berangsur namun pasti kondisi putri kami semakin hari semakin membaik, sungguh anugerah indah bagi kami, putri kecil cantikku sudah  mulai belajar berjalan seperti anak anak sebayanya yg lain, meskipun sedikit terlambat.
Selanjutnya kami sdh mulai melupakan penderitaan yg sudah cukup lama  pernah kami rasakan. Kebahagiaan mulai menyinati hidup kami, kami bersyukur kami ditempa kesusahan pada awal2 pernikahan kami. Ini sungguh menjadikan pondasi pernikahan kami semakin kokoh, kebersamaan dalam kesusahan dan penderitaan menyatukan hati kami, menjadikan kami mampu mensyukuri apapun yang kami dapatkan walau itu hanya sedikit rizeki. Kami menikmati kebahagiaan keluarga kami dalam kondisi apapun, tidak pernah ada pertengkaran serius dalam keluarga kami. Aku dan suami sudah ditempa untuk saling menguatkan satu sama yang lain kala itu, dan selanjutnya pun kami berharap akan selalu demikian.
Demikian juga saat Allah menguji kami kembali dengan kesehatan putri kami pada usianya yang keempat tahun, putri kecilku harus kembali bolak balik masuk rumah sakit karena diketahui ada pembekakan pada paru2nya, kami menerima ini sebagai ujian yang masih harus kami selesaikan dengan kesabaran dan ketabahan tanpa putus sedikitpun, harapan pasti sakit putriku juga nantinya akan disembuhkan, dia telah teruji dengan sakit yang parah di awal kehidupannya dan dia bisa melaluinya dengan sempurna, kali inipun aku yakin putri kecilku akan juga bisa melaluinya.
Selama hampir dua tahun kami harus sering bolak balik ke rumah sakit untuk rehab medis paru2nya. Dan Alhamdulillah,selanjutnya dokter menyatakan paru2 putri kami sudah tidak bermasalah dan sehat. Tentunya kali inipun kami merasakan Allah benar-benar telah menunjukkan kasih sayangnya pada kami. Selama dalam masa-masa sulit kami tidak pernah terlepas hanya berharap pd kuasaNya dengan sepenuh keyakinan Dia Allah SWT akan mendengarkan do'a dan harapan kami yang tidak pernah terputus.
Untuk beberapa tahun kemudian kami lalui kehidupan kami dengan penuh kebahagiaan sebagaimana keluarga-keluarga yang lain. Kami tidak pernah merasa sedih karena kesulitan ekonomi, jika sekiranya kami ada lebih maka akan kami nikmati bersama dengan sekali waktu jalan2 ke alun-alun menyenangkan buah hati kami.
Namun sepertinya, Allah masih ingin berkehendak mengujin kesabaran kami, dengan kesehatan putri kami, pada saat putri kami menginjak kelas empat sekolah dasa kembali Allah mengujinya dengan sakit yang menurut diagnosis dokter adalah sakit ginjal di kedua ginjal anakku, putri kecil kami harus segera dioperasi untuk mengeluarkan batu dalam ginjalnya, sungguh kali ini rasanya kami sudah pada titik ketidak berdayaan. Kami berdua menangis semalaman  tidak tahu harus bagaimana, apakah marah, apakah kecewa karena kesabaran yang coba kami pertahanan dalam setiap ujian selama ini belum cukup bagiNya. Sunghuh kami hampir saja masuk dalam keputus asaan, beruntung setitik iman dalam hati kami segera menyinari hati kami, kami tetap untuk bisa menerima ujian yang diberikaNya dengan kesabaran, dengan harapan Dia pun akan memberikan pertolongan pada kami.
Esok harinya segera kami bawa anak kami yang lemah karena sakitnya kebali ke dokter anak yang biasa merawatnya untuk merencanakan tindakan operasi ginjalnya. Kami sama ekali tidak berfikir berapa biaya yang akan kami butuhkan untuk itu ? Sama seklai tidak terbersit dalam pikiran kami, yang ada hanyalah keyakinan kami harus berikhtiar dengan keikhlasan menerima ujian dariNya dengan harapan pasti Dia akan memberikan lertolongan pada kami karena kesabaran kami. Sejenak dokter anak yang memeriksa anak kami mengamati dengan cermat hasil usg yang kami dapatkan dari laboratorium radiologi, melihat raut mukanya sepertinya dia tidal yakin dengan hasil tes tersebut, sungguh ini memberikan harapan besar bagi kami semoga diagnosis Dokter radiologi tidak benar dan terjadi kesalahan, dan seperti harapan kami dokter Hisworo meminta kami untuk cek keadaan ginjal anak kami ke laboratorium di rumah sakitvlain, sebagi scond opinion, ada secercah harapan semoga hasil tes selanjutnya diagnosis dokter terkait dengan kondisi ginjal putri kami tidak benar.
Selanjutnya, putri kami dianjurkan untuk puasa sehari, dan sebelum berangkat ke rumah sakit harus minum obat urus-urus untuk membersihkan lerutnya, tidakbbisa diceritakan bagaimana penderitaan yg dialami putri kami, dia lemah dan merintih minta minum dan makan sedikit saja, dengan rasa berat aku hanya berikan harapan " nanti setelah tes laboratorium selesai kakak bisa minta apa saja ... Kita makan di kfc ya ... Dan kita beli es krim yang kamu suka " hiburku berkali kali aku sampaikan pada putriku ketika dia mulai merengek tidak kuat menahan puasanya.
Tibalah saat putriku harus masuk ke ruang pemeriksaan, kami bertemu dokter radiologi perempuan yang ramah dan sepertinya pintar dan cerdas meskipun perawakannya kecil dan cantik. Dokter melihat, mengamati putri kami sesaat sebelum dilakukan pemeriksaan seperti yang direncanakan, sementara beberapa petugas telah sibuk mempersipakan alat - alat uang diperlukan.
" ibu .. Maafkan saya ... Saya tidak yakin putri ibu uang masih usia 9 tahun mengalami batu ginjal di kedua ginjalnya .. " subhanallah ucapan dokter sungguh memberi cahaya terang hatiku.
" saya minta ijin bapak dan  ibu ... Sebelum dilakukan cek ginjal putri ibu, saya akan lakukan USG 4D terlebih dahulu unyukk memastikan, karena sangat kasihan anak sekecil ini mengalami lemeriksaan ginjal yang menyakitkan ... " lanjut dokter yang langsung kami iyakan tanpa berfikir panjang. Kami yakin sekali lagi Allah telah meninjukkan kuasanya oada kami, dengan kesabaran dan keyakinan pasti Allah sendiri yang akan memberikan lertolongan kita dalam menghadapi ujiannya. Harapanbkami semakin besar putri kami tidak mengalami sakit seserius itu.
Kami langsung bersujud syukur ketika dokter radiologi kemudian menyatakan, ternyata ginjal puyribkami baik- baik saja dan yesnya dibatalkan, tetapi ada masalah di usus buntu putri kami sudah oecah dan harus dioperasi hari itu juga. Meskipun demikian kami merasa kan kebagaian karena bagi kami operasi usus buntu lebih tingan dibanding dg operasi ginjal.
Maka, janjiku untuk mentraktir putri kami setelah pemeriksaan batal karena dia harus melanjutkan puasanya sampai operasi dilakukan. Sungguh dalam hatiku aku tahu ini sangat berat bagi anak usia 9 tahin seperti putriku, untungnya diapun sudah mulai terbiasa dengan hal-hal seperti itu karena sudah seringnya dia menghadapinya sepanjang 9 tahun kehidupannya. Meskipun kondisinya semakin lemah, dia tetap diam tidak menagis dan merengek, aku terus memeluknya sekan ingin aku salurkan energi dan semangatku agar dia mampu bertahan, hingga tibalah dia harus masuk ruang operasi yang Alhamdulillah akhirnya berjalan engan lancar. Seminggu putri kami haris dirawat di fumah sakit, dan elanjutnya kami diperkenankan pulang dan merawatnya di rumah.  Sungguh kuasa Allah tiada bandingnya, Dia yang memberi cobaan pada kita, maka Dia pun yang akan memberikan pertolongan dan kekuatan pada kita. Kembali kami bersyukur atas cinta Allah yang teramat sangat besar pada kami.
Hingga kini putri kami timbuh dewasa dengan normal seperti teman-teman sebayanya yabg lain, timbuh menjadi gadis cantik dan cerdas yang berkeras ingin menjadi seorang dokter dan sekarang sednag berjuang menyelesaikan kuliahnya di fakultas kedokteran.
Selanjutnya ... Biarlah Allah yang tuliskan takdirnya yang kami harapkan indah baginya ... Aamiinn

Minggu, 03 April 2016

MADRASAH KEHIDUPAN - 7

( Bagian 7 )

HARAPANKU TIDAK AKAN PERNAH PUPUS



Firman Allah:

"Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman." Q.S. Al-Maidah (5): 23)

"Sesungguhnya Allah telah menolong kamu di beberapa banyak tempat dan pada peperangan Hunain, tatkala kamu sombong dengan banyaknya kamu, tetapi tidak berfaedah bagi kamu sedikitpun, dan (jadi) sempit bagi kamu bumi yang luas itu, kemudian kamu berpaling sambil mundur." (Q.S. At-Taubah (9): 25)

Jangan berharap kepada manusia karena mereka akan mengecewakanmu. Tetapi berharaplah hanya kepada Allah karena Dia akan memberikan yang terbaik untukmu.

“dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Alam Nasyrah (94): 8)

“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: 'Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,’ (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” (Q.S. At-Taubah (9): 9)

Setelah satu bulan dalam perawatan dan pantauan dokter, tidak banyak yang berubah dari keadaan putri manisku. Setiap hari dia masih merasakan hari-hari berat menahan kesakitan, berak darah, muntah, ditambah dengan keluar benjolan-benjolan bernanah di sekujur tubuh dan kepalanya membuat semakin tidak tahan kami membayangkan betapa menderitanya putriku. Apalagi dokter sudah menyatakan kepada kami bahwa secara medis dokter sudah angkat tangan untuk bisa menyembuhkan putri kami, sehingga yang mereka lakukan hanyalah sedikit menolong meringankan beban penderitaan putri kami.
Apa yang harus kami lakukan ? setiap saat kalimat itu yang terus kami pikirkan. Apakah kami harus menyerah ?  
      " Tidak " itu yang selalu aku katakan menjawab pertanyaan dalam hatiku sendiri, sementara hati nuraniku sebagai seorang ibu  selalu mengatakan " putriku pasti dapat disembuhkan " itu keyakinan yang selalu aku sampaikan pada suami dan orang-orang disekitarku yang mencoba memupuskan harapanku. 
Melihat keadaan putri kami yang tidak juga membaik, aku mengusulkan pada suami untuk membawanya ke RSUD Dr. Sutomo surabaya. Meskipun selama perawatan donter yang merawat putri kami tidak pernah menyarankan ini, tapi aku akan mencoba melakukan ini sebagai bentuk ikhtiar dan bukti bahwa aku tidak menyerah, toh selama satu bulan perawatan dokter juga belum memberikan penjelasan tentang sakit putri kami, kecuali penjelasan keadaan lever putri kami yang tidak baik ? toh mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa ?
Akhirnya, ketika kebetulan datang rombongan saudara kami dari surabaya yang datang menghadiri acara mantu saudara kami di kampung, saya memohon untuk ikut serta mereka pada saat mereka nanti balik ke Surabaya. Meskipun dalam keadaan mobil penuh sesak, kami bertekat membawa putri kami ke Rumah sakit Karang menjangan sebutan lain untuk RSUD Dr. Sutomo, dengan menginap sementara di rumah bulek di daerah rungkut.
Keesokan harinya dengan diantar bulek, dengan naik bemo kami membawa putri kami yang semakin lemah ke rumah sakit. Karena kondisi putri kami yang semakin lemah, kami diarahkan petugas langsung masuk UGD. Dan benar saja, dalam proses pemeriksaan  di UGD, putri kami BAB dengan kotoran bercampur darah dan muntah. Dokter segera menyarankan kami untuk mengurus  menginap di rumah sakit.
Hari-hari di rumah sakit Dr. Sutomo ini merupakan hari-hari yang sangat berat bagi kami bertiga. Pemeriksaan demi pemeriksaan dilalui oleh putri kecilku yang semaikn hari semakin lemah, kurus, dan membiru. Setiap hari dia harus puasa 5 sampai 10 jam sebelum dilakukan pemeriksaan. pemeriksaan yang paling berat adalah pemeriksaan cairan empedu yang dilakukan dengan sebelumnya putri kami harus puasa 10 jam  mulai jam 10 malam hingga direncanakan jam 8 akan dilakukan tindakan. Dalam tindakan tersebut selang dengan panjang sekitar 5 meter ( menurut yang kami dengar ) dimasukkan ke dalam lambung putri kami hingga mencapai saluran empedunya. Dalam prosesnya tangis melengking kesakitan putri kami terdengar sangat jelas, tidak ada yang dapat kami lakukan kecuali menangis. Aku dan suami hanya bisa menangis menahan penderitaan putri kami. Proses tindakan terasa sangat lama bagi kami hingga 30 menit putri kami baru bisa kami gendong kembali, dengan selang menjulang dari lunang hidungnya. 
   " Oh anakku, andai ibu bisa menggantikan penderitaanmu ..." tangisku pilu .
Anakku terus menangis dalam gendongan kami, dan keadaannya ini harus ditanggungnya hinngga beberapa hari ke depan. Menurut penjelasan dokter tindakan ini dilakukan untuk menegakkan diagnosis apakah saluran empedu putri kami benar-benar sedang tersumbat ? kami hanya mampu bermohon kepada sang kuasa agar penderitaan putri kami segera berakhir denngan kesembuhan.
Tepat setelah dua hari putri kami harus menangung penderitaan dengan selang panjang di perutnya, serta kantong plastik tersemat di ujung selang di hitungnya, akhirnya dokter menyatakan pemeriksaan diakhiri dan selang di perut putri kami harus diambil. Kami bersyukur penderitaan ini segera akan diakhiri, meskipun kami juga was-was tentang penyakit apa yang senag ditanggung oleh putri kecil kami yang tapa dosa ini ?
Setelah proses pengambilan selang putri kami,dokter memanggil kami untuk memberikan penjelasan hasil pemeriksaan pada kami. Dokter menyatakan putri kami menderita "Atresia bilier". dan dokter menjelaskan panjang lebar pada kami bahwa Atresia bilier adalah suatu keaadaan dimana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal. Padahal fungsi dari system empeduadalah membuang limbah metabolic dari hati dan mengangkut garam empedu yang diperlukan untuk mencerna lemak di dalam usus halus. Yang menyebabkan keadaan putri kami nampak kuning, perutnya buncit, dan keadaan kulitnya seperti alergi ditumbuhi bisul dan gatal-gatal sebagai bentuk gagalnya sistem dalam tubuhnya.  Hal ini juga  bisa menyebabkan kerusakan hati dan sirosis hati, jika tidak diobati bisa berakibat fatal. namun, hal baik yang disampaikan dokter adalah, untungnya keadaan putri kami segera diketahui sebelum terjadi serosis atau kerusakan hati. kejadian seperti putri kami yang belakangan terjadi adalah seperti penderitaan yang dialami "Bilqis" yang ramai dibicarakan dimedia  yang pada akhirnya meninggal.
Saat itu dokter menyampaikan bahwa solusi untuk dapat menyembuhkan putri kami adalah dengan jalan operasi, namun saat itu operasi belum dapat dilakukan di Indonesia, harus dillakukan di luar negeri dan biayanya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Atau berharap kepada mukjizat yang akan diberikan oleh Yang Kuasa akan berkembanngnya saluran empedu putri kami bersamaan dengan pertumbuhan dan perkembangannya, karena toh dia saat itu masih berusia 3 bulan. Ahh ...jawaban macam apa ini ?
Aku seperti tersambar petir, suamiku langsung lulai, artinya sama saja secara medis putri kami tidak dapat di sembuhkan selain dengan jalan operasi yang sangat mahal itu ?
Pada saat itu satu yang kami sangat bersyukur, kami masih memiliki Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Penyembuh Allah SWT. Kami tidak akan pernah putus harapan, persetan dengan dugaan-dugaan fana manusia. Dan benar saja, setelaj 17 hari kami menghabiskan hari-hari yang berat di rumah sakit, kami disarankan untuk merawat putri kami di rumah. Dokter akan terus memantau perkembangan putri kami dan membantu penderitaan putri kami dengan beberapa jenis obat dan enzim membantu pencernaan putri kami, dengan kami harus adatang 1 bulan sekali ke rumah sakit  untuk kontrol.
   " Ya Allah ... sekali lagi engkau menguji kami .... tapi Engkau tidak akan pernah  mendapatkan kami berputus asa , harapan kami kepadaMu akan kesembuhan putri kami tidak akan pernah pupus ... hanya Engkau lah satu-satunya tempat kami berharap, bermohon dan berlindung .... Engkau Maha Kuasa, tidak ada satupun yang dapat menghalangi KuasaMu jika engkau menghendaki .... termasuk jika engkau menghendaki untuk kesembuhan putri kami .... maka sembuhkanlah putri kami  Ya Rabb ...".