Untuk beberapa minggu pertama, obat dokter membuatku terlelap hampir sepanjang hari, sama sekali ku tak mampu berfikir tentang sesuatupun, apalagi melakukan apapun. Kuhabiskan waktuku hanya dengan tidur saja. Mungkin itu bagian dari terapi yang harus aku lalui karena sebelumnya penderitaan dari penyakit ini sungguh sangat menyiksa; insomnia, pusing kepala yang tiada henti, sakit disekujur tubuh dan persendianku serta diare yang terus menerus.
Namun, setelah terapi obat selama beberapa minggu itu keadaanku menjadi lebih baik, terutama aku sudah tidak diare lagi. Meskipun, keluhan yang lain tidak lantas sirna begitu saja. masih sakit nyeri hampir di sekujur tubuhku, ngilu dipersendianku, serta pusing kepalaku. Meskipun demikian, keadaan itu coba tidak aku bagi dengan orang-orang terkasih suami, anak-anak, serta orang tuaku. Aku tidak ingin mereka menjadi sedih karena tahu penderitaanku, aku tidak ingin mereka ikut merasakan nyeriku, biarlah kunikmati karunia indah ini sendiri bersamaNya kekasih abadi tempat curahan hatiku Allah Sang Maha Kasih. Hanya kepadaNya lah aku mengeluh, hanya kepadaNya lah kucurahkan rasa sakitku, hanya kepadaNya lah aku tumpahkan seluruh air mataku, biarlah cobaan ini hanya untukku.
Memasuki minggu kedua, aku sudah mulai terfikir tentang bagaimana dengan pekerjaanku, bagaimana aku melakukan pekerjaan rumahku, bagaimana aku harus mengantar sekolah anakku, bagaimana aku harus pergi ke kantorku ? larangan terpapar cahaya matahari memaksaku untuk mengambil keputusan aku harus mengubah gaya penampilanku. Aku jelas tidak berharap pergi kemana-mana membawa payung, seperti tukang kredit keliling. Lalu bagaimana aku harus melindungi tubuhku dari paparan cahaya matahari, padahal kerjaku harus aku lakukan pagi sampai sore hari ? Sempat aku browsing di internet mungkin ada gaya busana khusus untuk odapus , tetapi ternyata tidak kutemukan. Kebanyakan mereka masih menggunakan gaya busana biasa dengan bermasker dan kaos tangan dan kaos kaki lengkap saat keluar rumah, serta sunblock atau payung sebagai pelindung utamanya.
Tapi style yang seperti itu aku rasa kurang menarik bagiku, karena selama ini aku termasuk orang yang sangat perhatian terhadap gaya busana bahkan kadang sering menjadi rujukan gaya busana teman-temanku dan tidak jarang kemudian menjadi tren di lingkungan sekitarku. Setelah berdiskusi dengan suami dan keluargaku, mereka tidak keberatan aku mengambil keputusan mengganti gaya busanaku dengan gaya busana muslimah bercadar lengkap dengan kaos kaki dan handset untuk meminimalisir paparan matahari ke kulitku.
Orang tua dan suamiku justru sangat mendukung, bahkan beliau bilang akan merasa bangga istrinya bisa bergaya syar’I seperti itu, namun dia mensyaratkan cadar atau burkah dipakai saat di luar ruangan saja, ketika masuk atau berada dalam ruang dan mengajar cadarku harus aku lepaskan, tentunya syarat itu sangat tidak masalah bagiku.
Aku mulai memesan beberapa baju secara online, aku coba memakainya dan aku bersyukur ternyata aku lebih merasa nyaman dengan busana model baruku ini. Putriku mengirimkan beberapa burkah dan cadar yang dia beli dari uang sakunya, putriku sangat support dan mendukung gaya berbusanaku, dia katakan ibundanya lebih keren dengan gaya busana ala syari seperti itu, dia selalu katakan “Allah telah memberikan karunia indah pada ibuku “ ujarnya mencoba memberi semangat kepadaku melalui whatsApp pada suatu waktu.
Seperti dugaanku, pada awal – awal aku tampil dengan penampilan baruku ini, banyak yang memandang sinis, dan bahkan tidak mengenali diriku. Rasanya sedih juga, ketika orang-orang dekat yang aku kenal tiba-tiba enggan menyapaku. Belum lagi dengan siswa-siswaku yang selalu bertanya “Mengapa ibu guru berbusana demikian ?, tapi biarlah aku tidak perlu menjelaskan pada mereka, akhirnya toh mereka juga akan terbiasa dengan gayaku.
Bersyukur kepala sekolahku bisa memahami keadaanku, dan memberikan ruang khusus untukku mengajar, yaitu ruang multimedia dimana siswa yang akan mendatangi kelasku untuk belajar, sehingga aku tidak perlu naik ke lantai 2 mendatangi kelas-kelasku, karena kondisi fisikku memang belum siap untuk beraktifitas sebagaimana biasa.
Kepalaku masih sering terasa pusing dan berat, kurasakan keseimbangan tubuhku masih belum normal, masih sering terasa pandangaku berputar dan tubuhku sempoyongan. Tapi aku tidak bisa meninggalkan tugasku terlalu lama, karena kasihan pada siswa-siswiku jika mereka harus ketinggalan pelajaran karena kondisi sakitku. Aku hanya berharap dengan terapi yang akan kujalani ini, aku bisa menjadi lebih baik dan terus lebih baik sehingga dapat kembali beraktivitas sebagaimana biasanya.
Sungguh dalam keadaan demikian, aku hanya bisa ucapkan syukur dan syukur kepada Sang Penguasa Alam Allahu Robbi, aku merasakan kasih sayang Allah yang teramat besar telah dicurahkan kepadaku. Allah SWT telah betul-betul menjadikanku takluk tanpa daya dihadapan kekuasaanNya. Aku yang selama ini telah sombong merasa dapat melakukan banyak hal, dapat mensiasati setiap keadaan yang terjadi padaku karena kemampuanku dan kecerdasanku, merencanakan dengan sempurna masa depanku, anak-anak dan keluargaku, sungguh kini aku tahu, aku sadar, aku malu, Allah telah menunjukkan keterbatasanku sebagai manusia yang fana, yang hanya mampu membuat rencana. Astaghfirullahal ‘adhim, sungguh aku telah hilaf, aku telah salah, tidak ada sesuatupun yang dapat aku lakukan tanpa RidloNya, tiada sesuatupun terjadi tanpa kehendakNya, maka tiada pilihan lain bagiku sebagai manusia yang sangat fana ini kecuali ikhlas, dan bersyukur atas nikmat yang telah dikaruniakanNya kepadaku, hingga detik inipun aku masih dapat bernafas, aku masih dapat melihat hamparan ciptaanNya, masih merasakan aroma embun pagi disetiap terjaga dari tidur malam yang kadang terasa panjang, serta masih merasakan indahnya kehangatan berkumpul dengan orang-orang terkasih keluargaku.
Pada titik terendah hidupku ini aku hanya mampu memohon dan berserah diri kepadaNya. Berharap untuk diberikan kekuatan, kesabaran, kesembuhan dan umur panjang yang manfaat dan barokah atas RidhoNya.
Yaa Rabb …..
DihadapanMu aku tersimpuh….
Dalam KuasaMu yang tanpa batas itu ….
Dalam kerapuhan diriku di hadapanMu …
Kubersujud, menyerah, pasrah, dengan segenap rasa malu …
Karena lama ku rasa diriku telah mampu menulis sendiri cerita hidupku …
Ku buat rencana seakan lebih indah dari skenario yang telah Kau tetapkan bagiku
Ku tersimpuh …
Bagai sebutir debu …
Dengan segenap rasa malu aku mengaku …
Tak mampu ku tulis sesuatu untuk hidupku selain tulisan IndahMu …
Ku pasrahkan diri hanya akan mengikuti goresan takdirMu …
Kuyakin aku akan mampu …
Menjalani cerita hidupku ini dariMU …
Bersama ridloMu ...
Bersambung ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar