MADRASAH KEHIDUPAN


IBU YANG PERTAMA MENGENALKAN CINTA DAN KASIH SAYANG, IBU YANG PERTAMA MENGAJARKAN TENTANG KEBENARAN, IBU YANG MEMBERI WARNA KEHIDUPAN, IBU MADRASAH PERTAMA KEHIDUPAN

Kamis, 14 Februari 2019

Butterfly 4


HADIAH ULTAH 

       Pada suatu hari, keadaaku tiba-tiba drop dan pingsan, sekujur tubuhku dingin bagai tidak ada aliran darah dalam nadi-nadiku, tidak ada daya lagi, aku ambruk. Saat itu aku sudah berfikir, akankah ini akhir hidupku ? Untung kejadiannya pada saat kami sedang berkumpul di rumah, suamiku segera melarikanku ke rumah sakit, dan dokter menyarankan aku untuk dirawat inap beberapa hari sampai kondisiku pulih kembali.  
Hari – hariku di rumah sakit terasa berlalu begitu lambatnya, sampai akupun lupa hitungan tanggal berapa dan  hari apakah hari itu ? 
“Ayah … ini tanggal berapa ya ? 
tanyaku pada suamiku, yang sedang berbaring di kursi sofa kamar Anggrek 407 di rumah sakit tempat aku dirawat. Dia terlihat sangat kelelahan karena seharian harus bekerja dan malam harinya masih harus sering terjaga karena menghawatirkan keadaanku. Aku benar-benar sudah tidak mengingat  tanggal dan hari sejak beberapa hari lalu. 
“ Tanggal 2 Oktober dik ... memangnya kenapa  ? jawab suamiku datar. 
“ Tidak ada apa-apa … berarti tinggal beberapa hari lagi ya … ? jawabku yang tiba-tiba teringat hari ulang tahunku tinggal beberapa hari lagi.
     Sudah menjadi kebiasaan suamiku tidak pernah ingat hari ulang tahunku, aku selalu harus mengingatkannya jauh-jauh hari sebelum hari ultahku. Tapi segera dia sadar arah pertanyaanku 
“ oh iya … hampir lupa, hari ulang tahun adek kan … jangan hawatir pasti nanti ada hadiah istimewa untuk istriku tercinta “ Jawab suamiku setengah merayu seakan ingin menghapus sedikit rasa bersalahnya telah melupakan hari ultahku yang tinggal beberapa hari lagi. 
Sejak kami menikah kami selalu berusaha melakukan hal istimewa pada setiap hari ulang tahun masing-masing, selalu ada hadiah walau hanya sekedar seuntai bunga atau ucapan sebagai tanda kasih sayang kami. Bagi kami berdua setahun sekali mengistimewakan pasangan menjadi suatu keharusan untuk memupuk kasih sayang diantara kami dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.
Tapi kali ini, tidak ada sesuatupun hadiah istimewa yang kuharap dari suamiku, motivasi yang terus menerus diberikannya padaku dalam menghadapi ujian sakitku ini sudah cukup menjadi hadiah terindah dari suamiku. Meskipun suamiku adalah orang yang tidak mudah mengungkapkan kata hatinya karena dia termasuk type lelaki yang jauh dari kata “romantis”, tapi dari perhatiannya ku tahu dia sangat sedih melihat kondisiku, dia sangat ingin mencurahkan semua perhatiannya untukku. 
“ Tidak ayah ,,, aku tidak ingin hadiah apapun, aku hanya ingin ayah membuat ungkapan perasaan ayah padaku pada saat ini , pada saat aku diuji dengan sakitku ini, karena aku sudah banyak merepotkan dan menyusahkan ayah bahkan mungkin disepanjang hidupku bersama ayah  …” ujarku sedih kepada suamiku.
 “Wah … aku malah tidak bisa membuat yang seperti itu dik, ungkapan hati yang bagaimana … minta yang lain saja ya … sepatu, jam tangan, tas atau apalah … jangan yang seperti itu, aku ndak bisa “ jawab suamiku setengah menghibah, yang membuatku justru malah ingin menggodanya
 “ tidak … aku hanya minta coretan satu atau dua kalimat ungkapan kata hati ayah padaku saja … pokoknya aku tungguh ya tanggal 7 oktober … masih ada waktu 5 hari loh  … “ godaku sambil menahan tawaku melihat suamiku kebingungan. 
  Meskipun munkin bagi suamiku permintaanku itu dianggap mengada-ada dan berlebihan, tapi bagiku ungakapan kecil kata hati  suamiku tentang diriku dan kami, akan sangat berharga dalam kondisiku yang sekarang ini, dengannya ku ingin mengukur seberapa besar arti diriku baginya, seberapa besar kesabarannya kelak mendampingiku dengan Lupus bersamaku, dan akan aku  jadikan sebagai “deklarasi” janji suamiku untukku. 
     Hari-hari di rumah sakit terasa sangat lama sekali, dari detik ke detik, menit, jam rasanya berjalan sangat lambat, pada hari ketiga di Rumah sakit aku sudah mulai jenuh, rindu yang teramat sangat pada putri kecilku Adibah serasa sudah tidak tertahankan, hampir selalu membuatku menangis jika mengingatnya. Terbayang bagaimana andai aku tidak dapat menemani anak-anakku  selamanya ? 
“ ah … tidak “  segera kutepiskan bayangan suram itu, ku yakinkan dalam hatiku “ aku pasti bisa melewati ini semua, aku pasti bisa sembuh …” kata hatiku menguatkan semangatku seraya kuhapus airmata yang tak terasa sudah jatuh membasahi pipiku. 
       Ingatanku akan bungsuku yang masih sangat membutuhkanku,  menguatkanku untuk mengikuti proses pengobatan ini dengan sebaik-baiknya, tidak kuabaikan sedikitpun nasehat dokter, aku harus banyak beristirahat baik fisik maupun pikiranku. 
     Namun, ternyata itu tidak mudah, hampir setiap siang atau malam hari  aku justru malah tidak bisa tidur, aku tidak mampu membohongi hatiku bahwa aku sedih, aku takut dengan sakit yang aku derita ini. Belum lagi  badanku yang masih merasa lemas, persendian dan tulang belulangku yang rasanya sakit menusuk tak tertahankan dan kepalaku yang masih terasa berat. Sungguh keadaan ini membuat hatiku kian sedih. 
“ Yaa Allah … berikan aku kesabaran, kekuatan, kesembuhan dan umur panjang yang manfaat dan barokah tidak menjadi beban keluargaku …” doa yang selalu aku ucapkan setiap saat dalam hatiku. 
     Kucoba tahankan untuk tidak mengeluh, aku kasihan  pada ibu dan suamiku yang telah lelah dan sabar mendampingiku selama di rumah sakit, kubiarkan mereka tidak  tahu tentang rasa sakitku, aku tidak ingin mereka bertambah sedih dengan keadaanku, biarlah aku rasakan sendiri sebagai bagian dari ujian Allah SWT untukku.
   Kondisiku yang demikian ternyata berpengaruh pada tekanan darahku yang sangat tidak stabil, tiba-tiba turun dan naik secara drastis. Aku semakin sedih sebenarnya apa yang sedang tejadi dengan diriku ? Meskipun demikian aku tidak pernah mencoba diskusikan perihal penyakitku dengan ibu atau suamiku, dihadapan mereka kutampakkan seakan aku baik-baik saja,  biarlah mereka tetap mengganggap bahwa aku sudah baik, dan akan segera sembuh. Aku ingin membangun harapan yang besar pada mereka bahwa aku baik-baik saja dan akan segera sembuh kembali.
    Malam-malam berikutnya kondisiku semakin membaik, meskipun pusing di kepala dan nyeri dadaku masih belum tuntas penuh,  namun aku sudah mulai dapat menikmati tidur malamku walau tidak terlalu jenak. Hari berikutnya, dokter memerintahkan perawat untuk cek kondisi jantungku  karena keluhan rasa nyeri dada bagian kiriku dan detak jantungku yang melemah kata perawat yang memeriksaku hampir setiap 4 jam sekali dalam seharinya. Aku semakin sedih, tapi tetap saja  aku coba rahasiakan kesedihanku pada suami dan ibuku. Ku ingin mereka tidak putus harapan karena darinya ku butuhkan sandaran, karena darinya kubutuhkan kekuatan pada saat aku lemah, karena mereka sumber semangat pada saat aku kehilangan semangatku. 
Selama di rumah sakit suamiku tidak bisa menjagaku setiap saat, pada siang hari dia tetap harus pergi ke kantor untuk bekerja,  sehingga yang berkomunikasi dengan dokter hanya diriku sendiri, sementara ibuku yang sudah sepuh  rasanya tidak tega aku bebani menanggung tanggung  jawab memahami penjelasan dokter yang kadang menggunakan bahasa medis yang sulit beliau fahami, sehingga dengan keadaan demikian hampir setiap visitasi, dokter hanya berdiskusi langsung denganku terkait dengan perkembangan medis penyakitku,  dan itu baik untukku sehingga aku selalu bisa rahasiakan kondisi diriku yang sebenarnya pada suamiku. 
       

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar