MADRASAH KEHIDUPAN


IBU YANG PERTAMA MENGENALKAN CINTA DAN KASIH SAYANG, IBU YANG PERTAMA MENGAJARKAN TENTANG KEBENARAN, IBU YANG MEMBERI WARNA KEHIDUPAN, IBU MADRASAH PERTAMA KEHIDUPAN

Kamis, 14 Februari 2019

Butterfly 5


Motivasi dokter Heri, dokter spesialis dalam yang merawatku pada setiap kunjungannya sungguh selalu bisa menyejukkan hatiku, seakan dia memang sudah faham betul tentang apa yang ada difikiran setiap pasiennya termasuk diriku.
 “ Sabar ibu … ini baru proses penyembuhan, nanti akan baik kalo pengobatannya berjalan dengan baik … sabar ya …” selalu itu yang dia sampaikan ketika aku mengeluhkan rasa sakitku yang masih kurasakan, dengan senyum khasnya menguatkan hati dan menambah semangatku.
Malam ini entah malam keberapa aku dirawat di rumah, tidak seperti hari biasanya suasana seakan lebih hening dari malam-malam sebelumnya, mungkin sebagian tetangga kamarku sudah pulang ?  Seperti biasanya aku merasa susah memulai tidurku, terbayang putri kecilku yang pastinya juga gelisah dan kesulitan memulai tidur malamnya tanpa ada didekapanku. Ku coba pejamkan mata dan halau semua pikiran yang menjadi beban di kepalaku.
Bibirku  tidak henti aku buat lafalkan dzikir, demikian pula suara indah bacaan  baca Al Qur’an dari hp tidak berhenti menghiasi  pendengaranku. Namun tetap saja aku risau dan sulit memejamkan mataku. Meskipun demikian, aku pura-pura sudah terlelap ketika ibu maupun suamiku  mencoba mengecek keadaanku.
Saat itu rasanya sudah larut karena  tidak lagi aku dengar suara dari luar ruanganku yang biasa terdengar berisik langka pengunjung rumah sakit atau penunggu pasien.Tiba-tiba aku dengar hp ku bergetar, tapi tetap saja tidak aku pedulikan, paling juga dari grup teman alumni yang biasanya memang masih rame sampai larut malam, pikirku.
“ Dik … sudah tidurkah “ Ku dengar suamiku berbisik di telingaku dan memegang lembut tanganku. Segera aku berbalik dan mendapati suamiku telah tepat berdiri di samping ranjangku.
“ iya ayah … sudah mulai mengantuk “
“ Kok whatsAppku tidak dibuka  …?
“ Loh … memangnya ayah kirim apa di whatapp malam-malam gini … ada apa ? tanyaku sedikit heran karena tidak biasa suamiku demikian.
“ Selamat Ulang Tahun sayang … semoga sehat dan panjang umur ya …“ ucapnya lirih sembari mencium keningku
Aku kaget bercampur haru, karena memang benar-benar  aku lupa malam itu malam ulang tahunku, dan justru aku malah pesimis suamiku ingat  dan akan memenuhi permintaanku.
Terasa ada tetesan air mata di keningku ….
“ suamiku menangis …” batinku.
“Kenapa ayah  … ?“  tanyaku sekuat tenaga menahan tangis haruku juga.
“ Adik sabar ya … aku dan anak-anak masih sangat membutuhkan adek … adek harus sabar dan patuhi semua nasehat dokter ya … aku ingin adek sembuh untuk aku dan anak-anak” kata suamiku terbata menahan perasaan yang sepertinya sudah tertahan lama. Aku tahu suamiku juga menyimpan kesedihan karena sakitku, meskipun aku sudah berusaha untuk sembunyikan setiap keluhanku.
“ Coba  saja buka whatsApp … ada hadiah untuk adek“ katanya setengah berbisik.
“ Bener ... hadiah apa kok di whatsApp “ jawabku menggoda.
“ yang kemarin adek minta … “ jawab suamiku sedikit tersipu.
“ bener bisa buat kata indah  untukku …? Jawabku menggoda, tak percaya karena suamiku tidaklah termasuk pria romantis yang bisa membuat kata-kata indah. Karena sepanjang kami pacaran sampai 20 tahun menikah tidak sebaitpun kata indah disusunnya untukku.
Segera aku ambil handphonku dan ku buka whatsApp dari suamiku … “video …?  Terbayang pasti video ucapan ulang tahun suamiku untukku, paling juga copas dr youtube atau WhatsApp group teman-taman alumninya, pikirku meremehkan.
“Ah … ternyata jaringannya buruk … ini video apa ? tanyaku tidak sabar
“ lihat saja sendiri nanti … semoga adek bahagia dan selalu semangat ya …” kembali dia mencium keningku dan beranjak pergi dariku karena ibuku sepertinya terbangun terusik dari tidurnya karena perbincangan kami.
Tidak sabar aku menunggu download video kiriman suamiku. Aku terkejut ternyata video sebuah lagu kesukaan kami “ Mutiara Hidup” nya bang haji Rhoma Irama yang diberi latar ucapan selamat ulang tahun dan kalimat indah dari suamiku, dipadu dengan gambar dan foto kami berdua. Indah sekali video ini, benar-benar seakan kami yang sedang ada di dalamnya, aku tidak percaya suamiku bisa membuat ini untukku. 
“ Hadiah yang istimewa …” gumamku
“ Trimakasih Ayah … benar nih hasil karya sendiri …? Tanyaku sedikit tidak percaya yang dijawabnya dengan tersenyum kecil, Ternyata suamiku lebih romantis dari sangkaanku selama ini.
Persembahan indah di hari ulang tahunku dari suamiku ini benar-benar menjadi sangat berharga bagiku dari apapun, di dalamnya nampak ilustrasi diriku yang digambarkan oleh seorang wanita berhijab hitam yang memandang lautan dengan gamang, itulah aku. Suamiku tau bahwa istrinya yang rapuh ini sedang gamang memandang lautan kehidupan didepannya, dipadu dengan alunan suara indah bang haji Rhoma Irama dengan lagu mutiara hidupnya, sungguh membuat aku tidak bisa menahan air mataku. Tidak kusangka suamiku dapat membuat kata-kata indah yang menjadi janjinya untuk tetap selalu bersamaku, mendampingiku sampai akhir hayat memisahkan kami. Sungguh, video yang hanya berdurasi 2 menit ini mampu menjadi semangat dan motivasiku untuk berjuang lebih keras mengikuti arah takdirku.
“ Ayah … terimakasih, aku tidak menyangka ayah bisa membuat video seindah ini “ kataku lirih.
Dengan kalimat-kalimat yang akan selalu aku jadikan motivasi dan semangat hidupku, yang kan selalu aku ingat seumur hidupku, insyaAllah.
Selamat Ulang Tahun Istriku …
Semoga selalu sehat …
Semoga diberi umur yang panjang dan barokah …
Semoga diberi umur yang manfaat untuk aku dan anak-anak kita , keluarga dan umat …
Semoga selalu semangat …
Kita titih kehidupan ini bersama-sama sampai tua nanti …
Untuk menghantarkan buah hati kita hingga menjadi manusia dewasa, mapan dan bermanfaat untuk sesame ...
Yakinlah bahwa dengan segala keterbatasanku dan kekuranganku, aku kan selalu mendampingimu sampai akhir hayat kita …
Teruslah berjuang …
Teruslah semangat …
Untuk kami semua ….

Trimakasih suamiku, syukur aku haturkan padaMU ya Rabb, telah engkau kirimkan seorang bak malaikat kepadaku, yang selalu membimbingku, menjadi imamku, menjadi sahabatku, inspirasiku,  sumber semangatku, motivator hidupku. Terimakasih ya Allah untuk seorang lelaki yang dari tulang rusuknya Engkau ciptakan diriku, yang siap terus akan menemaniku dalam keadaan apapun diriku. Kabulkan doanya, kuatkan hatinya untuk amanah memegang janji dan keinginannya hari ini sampai kapanpun, menitih hidup bersamaku, membimbingku dalam segala keadaanku.
Kini, kabut kegamangan itu mulai tersingkap. Dengan janji suamiku yang akan selalu berada disisiku, aku yakin aku akan mampu hadapi sesulit apapun ujian hidup ini. Selama dia ada disisiku kan aku abaikan sedihku, kan ku ciptakan bahagia bersamanya, bersama kami semua. Aku yakin dan semakin yakin aku bisa dan akan mampu bertahan dengan dukungan anak-anak dan suami disisiku.
Kami sepakat, bahwa keadaan sakitku ini biarlah hanya kami dan keluarga dekat kami saja yang tahu. Aku tidak menginginkan teman-teman,  kerabat, atau masyarakat disekitar kami mengetahui tentang sakitku ini.  Aku tidak ingin dipandang lemah karena sakit yang aku tanggungkan ini. Aku tetap mau masih dapat berbuat banyak dan mendapat banyak kesempatan untuk banyak berbuat yang bermanfaat untuk umat,  selagi aku masih mampu. Dan aku bersyukur, hingga detik ini aku masih dapat melakukan pekerjaanku, mengikuti aktifitas sosialku, organisasiku, meskipun dengan kondisi tubuh yang kadang tak tertahankan karena sakitnya, namun tetap aku coba paksakan sebatas kemampuanku untuk bertahan.

Bersambung ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar