MESTINYA DIA MASIH DISINI
Aku tertegun menatap nisan itu, sudah kelihatan sangat usang, berlumut dan sangat tidak terawat, bahkan rumput liar telah hampir menenggelamkan pusaranya.
“Tidak pernah ada yang berkunjung ke makam ini “ kata hatiku
Kucoba sibakkan rambatan rumput liar yang telah mencekeramkan akarnya dengan erat ke tanah merah makam ini. Tak kurasakan keringatku menderas mengalir disela sela dahiku, kuingin mengenang kembali murid kesayanganku masa tiga tahun lalu.
Dia cantik secantik namanya Yanti Eka Mutiara nama yang sungguh indah, dengan matanya yang berbinar setiap saat berbicara dan ketawanya yang lepas menampakkan gigi gingsulnya yang menambah kecantikan rupanya, menjadikannya siswa yang banyak disukai teman-teman dan gurunya. Dia siswa yang paling reseh jika ada satu bahasan saja yang tidak dia kuasai atau satu cara menyelesaikan soal matematika yang saya ajarkan yang dia tidak mengerti, pasti dia akan mengejarku sampai ke rumah meskipun malam atau hujan dia tidak peduli, itu menjadikan dia istemewa di mata kami guru-gurunya. Perjuangannya untuk menjadi yang terbaik, dan semangat belajarnya yang tinggi menjadikan dia tidak pernah tergeser dari peringkat 3 besar dikelasnya.
“ Bu Umaaaa …. “ masih terngiang dia sering berteriak hanya untuk menyapaku walau dia berada jauh diseberang lapangan olah raga, setiap melihat sosokku. Dan selalu aku jawab dengan lambaian tangan dan cium jauhku, begitupun dia sudah tampak merasa senang dan bahagia.
Tak terasa kenangan ini telah menjadikan airmataku menetes deras membasahi pipiku, teringat diawal sakitnya, dia datang mengeluh sangat menyesal suatu saat ketika dia tidak dapat mengerjakan PR nya dengan sempurna.
“ Bu uma … kenapa ya bu akhir-akhir ini kepalaku sering pusing, aku tidak bisa mengerjakan tugas ibu dengan baik … mohon maaf ya bu, setiap aku coba berfikir rasa kepalaku panas dan seakan mau pecah, pusing sekali … “ begitu keluhnya saat itu dengan raut mukanya yang menampakkan kesedihan.
“ kalo merasa demikian, ya istirahat saja dulu, buat tiduran mungkin setelahnya akan lebih baik, baru dilanjutkan belajarnya …” jawabku mencoba memberi solusi.
Minggu berikutnya, ketika tiba waktu aku harus mengajar dikelasnya tak kudapati Tiara ditempat duduknya.
“Kemana Tiara kok belum masuk kelas ?” tanyaku sedikit heran, karena tidak biasa dia tidak ada dikelas saat pelajaranku berlangsung, karena dia paling menyukai pelajaran matematika.
“ Tiara sakit bu, sudah tiga hari tidak masuk “ jawab teman sebangkunya.
“ Thipusnya kambuh lagi … ? sela yang lain.
“ kalian sudah menjenguknya ? tanyaku sedikit hawatir Tiara sakit serius karena keluhannya minggu lalu. Sebenarnya kami sudah sangat terbiasa dengan kondisi Tiara ijin tidak masuk sekolah karena sakit, hampir setiap bulan dia harus cuti belajar minimal 3 hari untuk berobat karena sakit tiphusnya yang berulang kali kambuh.
Dua minggu berlalu ternyata Tiara belum juga masuk sekolah, aku coba menanyakan pada wali kelas dan guru BK tentang keberadaan Tiara dan sakitnya. Mereka membenarkan bahwa Tiara siswa cantikku nan lincah ini telah dua minggu sakit, orang tuanya tidak bisa menjelaskan sakitnya apa, kecuali kata dokter terjadi peradangan di otaknya, jawaban dari keluhan kepalanya yang selalu terasa pusing dan badannya yang juga sering lemas, keluhnya suatu waktu kepadaku.
Tiba-tiba kehawatiranku semakin bertambah dan muncul dugaan yang tidak-tidak dibenakku mengenai sakitnya Tiara, “ apakah dia terkena kangker otak? aku harus segera menjenguk ke rumahnya” janji hatiku.
Sudah aku rencanakan hari jumat minggu berikutnya aku akan mengunjungi Tiara ke rumahnya, sudah tiga minggu dia tidak sekolah. Ternyata rumahnya cukup jauh juga dari sekolah, sekitar berjarak 1,5 km dari sekolah tidaklah dekat jika ditempuh dengan jalan kaki, sementara Tiara selalu datang ke sekolah dengan berjalan kaki. Subhanallah, dan aku baru menyadari bahwa siswi terbaikku ini adalah seorang pejuang sejati. Meskipun demikian aku tidak pernah melihat raut lelah mukanya, saat-saat dia masih sehat maupun sudah sering sakit mulai beberapa bulan yang lalu.
Aku tertegun berdiri didepan rumah berdinding papan yang tampak sudah berlubang disana sini, dengan jendela yang tertutup rapat, beralas tanah, berukuran yang masih lebih besar ruang kelas tiara di sekolah. Rumah Tiara yang luasnya hanya sekitar 5m x 10 m sungguh rumah yang jauh dari layak untuk di huni 5 orang, kedua orang tuanya bersama Tiara dan dua adiknya.
Kutahan sedihku, sungguh aku tidak menduga gadis cantik, pandai nan periang itu dalam kehidupannya menyimpan beban kehidupan yang begitu berat. Namun dia sama sekali tidak tampak minder, ataupun merasa terbebani karena kemiskinan keluarganya. Dia selalu tampakkan senyum cerianya seakan tidak peduli dengan beban hidupnya. Tetapi ternyata Tuhan sangat sayang kepadanya, dia diuji dengan ujian kesehatannya pula.
Bersambung ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar