MADRASAH KEHIDUPAN


IBU YANG PERTAMA MENGENALKAN CINTA DAN KASIH SAYANG, IBU YANG PERTAMA MENGAJARKAN TENTANG KEBENARAN, IBU YANG MEMBERI WARNA KEHIDUPAN, IBU MADRASAH PERTAMA KEHIDUPAN

Minggu, 18 April 2021

RAHASIA BILIK HATI 19

 


Aida sengaja tinggal menginap di rumah Syafia, setelah Syafia dengan serius memohonnya untuk tinggal. 

"Pasti ada sesuatu hl khusus yang ingin Syafia ceritakan padaku.... Baiklah ... Syafia sudah tidak memiliki seseorang yang mungkin bisa diajak berbagi" Batin Aida.

Setelah Syafia dengan sedikit memaksa Aida untuk tinggal, akhirnya Aida memutuskan untuk tinggal beberapa hari di rumah Syafia. Sementara kawan-kawan mereka yang lain sudah blik ke Malang setelah Sholat Maghrib. 

Syafia ingin Aida  tinggal, banyak hal yang ingin Syafia ceritakan pada Aida yang tidak bisa dia ceritakan kepada orang lain, termasuk adiknya. 

Semalaman hampir mereka tidak tidur, Syafia merasa sedikit lebih lega telah mencurahkan beban hatinya kepada sahabatnya Aida, tentang kenapa dia menolak lamaran ikhwan yng baik, tentang upaya untuk mendapat pekerjaan yang terganjl karena cadar yang dikenakan. Tentang  banting ukhti Ana sama murobbi yang telah menyelamatkan adiknya dari putus sekolah. 

Aida mendengarkan cerita Syafia dengan bijak dan serius, tak lagi ada canda sebagimana yng sering Aid lakukn dalm menanggapi suatu permasalahan. Aida mengerti bahwa ijin yang sedang diterima Syafia bukan ujian kecil yang bahkan dirinya sendiri pun barangkali tka mmpu menanggungnya. 

"Ukhti Fia .... Sepertinya memang kerja pada bidang publik ndak tepat untuk kita... Pakaian kita saja sudah menakutkan mereka... Masalahnya sebagian orang memang sengaja ingin merusak islam dengan memberi label teroris kepada muslimah bercadar seperti kita.." Sebuah analisis tajam dilontarkna Adia. 

"Tumben ku pinter... " Kata Syafia menggoda disambut dengan cubitan Aida, dan sesangat mereka bercanda tertawa bersama. 

" Serius ini ukhti Fia... Barangkali kalau ukhti masih sangat membutuhkan pekerjaan lupakan ijazah ukhti, jangan pake acuna apa jurusan kuliah kita dan ijazah kita, banyak orang sukses bukn karena ijazah, tapi karena keuletan dan kerja keras... Barangkali ukhti harus berfikir di bidang lain selain akuntansi... " Sambung Aida. 

"Kerja bidang apa ukhti? Saya tidak memiliki kapasitas keilmuan dan keahlian di bidang lain selain akuntansi" Jawab Syfia. 

" Barangkali buka warung bakso atau mie ayam atau nasi kebuli... Nih masih bidang akuntansi juga loh" Kata Aida sambil memasukkan gurauan agar Syafia tidak terlalu sedih dan tegang. 

" Aduh.. Rasany aku tidak bisa ukhti, aku ndak bisa masak juga agak malu jualan di pinggir jalan" Tepis Syafia. 

"Kalau jadi guru privat atu guru anak SD mapu..?. Aku kira ndk perlu ilmu khusus untuk mengajar anak SD, materi-materinya paling juga ukhti Fia masih apal dulu saat sekolah di SD" Aida mencoba menawarkan beberapa alternatif

"Barangkali  ukhti bisa kalau hnya sekedar menjadi guru SD ... " Lanjut Aida. 

Sementara yang diajak bicara sejak tadi diam saja, seakan bingung. 

"Kalau ukhti mau mencoba mengjar  sekedar ada pekerjaan saja, Ustadz Hamid sumi ukhti Ana punya lembaga di Surabaya sini... Mungkin nanti bisa aku sampaikan ke ukhti Ana kalau Dia sungkan sampaikan sendiri... "

"Iya ukhti... Akan saya coba... Sepertinya menarik beljar bersama anak-anak " Jawab Fia sejurus kemudian. 

"Tapi aku apa bisa diterima.. Tidak punya basic guru sama sekali? Ujar Syafia ragu. 

" InsyaAllah ukhti... Nanti aku tak main ke rumah ukhti Ana dan ceritakan ini,... InsyaAllah ustadz Hamid dan ukhti akan dengan senang hati membantu anti. 

" Baiklah ukhti... Bismillah saya akan mencoba"

"Ukhti Aida bntu ya ... Sampaikan ke ukhti Ana dan ustadz Hamid"

"Terimakasih Sahabat quu ...." Kata Syafia sam bil memeluk sahabatnya Aida, yang telah mau mendengar semua curhatan hatinya, dan karena telah menemukan jalan keluar dari permasalahan yang cukup membuatnya hampir putus asa. 

NEXT

Jumat, 16 April 2021

RAHASIA BILIK HATI 18

RAHASIA HATI SYAFIA
Oleh : Ummu Syafira

Sebuah alunan lagu sholawat terdengar dari gaway Syafia yang tergeletak di atas meja rias di kamarnya yng nampak tersusun rapi. Beberapa kali lagu berulang pertanda sang pemanggil mengulang kembali panggilannya beberapa kali, namun Syafia ynag sedang asyik memasak di dapur tidak juga mendengar. 

Hari ini rencana teman-teman Syafia dari Malang akan datang berkunjung. Syafia dan Syifa sejak pagi sudah mulai mempersiapkan sambutan untuk Aida, Sulis dan teman lainnya yang akan datang sekitar ba'da dhuhur nanti. 

Bebarapa jenis kue disiapkan syafia untuk menyambut kedatangan mereka. Syafia sengaja memasak nasi kebuli favorit mereka juga, mereka sering memasak nasi kebuli saat slesai ujian, biasanya mereka menyiapkan waktu sehari setelah ujian untuk berkumpul. Dlam waktu sehari itu, wktu benar-benar merek habiskan bersama seluruh penghuni rumah untuk bersih-bersih rumah dn masak nasi kebuli untuk merek mkan bersama. Sang tetangga para cowok itupun tidak lupa mereka selalu bagi sepiring besar untuk mereka.

Eitt... Bagi par aktivis dakwah, hampir seluruh waktunya diwakafkan untuk dakeah. Sehingga jarang sekalierek miliki waktu berkumpul lengkap semua anggota penghuni rumah selin waktu malam. Bahkan hari minggu saat libur kuliah pun mereka masing-masing memiliki jadwal halaqoh atau kegiatan dakwah lain ditempat yang berbeda. Mereka tidak pernh merasa lelahencari dan berbagi ilmu agama. 

Pun demikian saat libur semester, mereka jarang sekali mengambil libur semester untuk pulang ke kampung halaman masing-masing. Bahkan kegiatan untuk mengisi liburan semester sudah jauh sebelumnya direncanakan. Biasanya mereka mengadakan kegiatan-kegiatan "Daurah" atau pelatihan !dalam bidang dakwah, ibadah, ekonomi Islam, politik Islam dan lain sebagainya. 
_______

Tok... Tok... Tok.. 
"*Assalamualaikum... "  Ucap salam mereka hampir bersamaan. Merek sudah tidak sabar inginbmengrtahui kabar Syafira dan Syifa. 

"Waalaikumusalam wa rohmahtullah... " Jawab suara yng tidak asing lagi ditelinfah mereka. 

"Ukhti... Kami datang" Teriak Aida sambil lngsung membuka lebar pintu rumah dan mengajak teman-temannya masuk. 

"Alhamdulillah... Akhirnya bisa berjumpa lagi dengan kalian" Sambut Syafia sambil memeluk akhwat teman serumah nya saat mereka kuliah satu ersatu. 

"Ayoo silahkan duduk" Syafia memersilahkan teman-temannya untuk mengikuti tempat duduk di kursi lusuh rumah tamunya. 

"Maaf rumahnya jelek" Kata Syafia basa basi. 

" Ndaklah ukhti... Rumah ini cukup menyenangkan, kecil tapi tertata indah" Kata Ika. 

"Gimana... Ukhti Dia mau balik ikut kita alami ke Malang... Masih ada bad yng kosong kok" Goda Aida. 

" Kalau bukan karena Syifa masih harus melanjutkan sekolahnya di sini, aku sih suka bersm kalian di Malang saja" Ujar Syafia datar. 

"Tapi sudahlah... Memang jalan cerita dalam skenario Nya kami harus di sini", lanjut Syafia. 

" Kalo aku seneng di surabaya ukhti ... Metropolitan, pasti ramai" Sahut Sulis. 

"Oh iya.. . Semana Syifa ukhti... Kok sepi" Tnya Aida setelah mata indahnya memindai ruangan ndk menemukan Syifa. 

"Syifa sedng di dapur.... Sebentar aku panggil" Kata Syafia. 

"Ukhti ndak usah repot - repot... Kita kangen ngobrol-ngobrol dengan ukhti" Sahut Ika. 

" Ndak lah ukhti... Masak kita sudah jauh-jauh dari Malang  tidak ada suguhan.. " Celetuk Aida dengan gaya kocaknya. 

" Bersalah Aida... Sudah kami siapkan semua... Termasuk makan sing nasi kebuli favorit kita. 

"Lah... Ini baru luar biasa" Lanjut Aida sambil tertawa. 

" Aku bantu ya... Yuukk kita kedapur saja... Masak bareng-bareng masak nasi kebuli bersama-sama" Ajak Aida kepada teman-temannya. 

" Ndak usah ukhti... Sudah selesai kok" 
" Aku masuk sebentar mnggil Syifa ya... " Kata Syafia sambil berlalu. 

. NEXT

Minggu, 11 April 2021

RAHASIA BILIK HATI Part 17

 



Seperti hari-hari biasa, pagi ini sehabis sholat subuh dan murojaah, Syafia sudh memulai aktifivitas bersih-bersih rumah mungil mereka dan memasak untuk sarapan pagi. Nun ad hl yng berbeda dari hari biasanya, nampak ada secerch aura bahagia di wajah dan mata Syafia yang nampak dapat dilihat oleh siapapun yng selm ini dekat Syafia. Nampak aura gembira, bahagia, semangat dan aura-aura positif lainnya. 

"Kak Fia tumben... " Sapa Syifa merasa aneh melihat kakanya nampak gembira dan penuh semangat. Sfifa sngt senang melihat kakaknya sudah nampak mulu bisa melupakan dukanya. 

"Tumben gimana... Perasaan biasa saja" Sahut Syafia mencoba menyembunyikan kebahagiaannya pagi ini. 

"Ya... Kakak nampak beda saja  ... Tapi Syifa ikut senang kok kak... " Jawab Syifa smbil memeluk kakaknya dari belakang. 

" Iya... Mang kakak bahagia pagi ini"

"Gih... Segera sarapannya... Dan temui kakak di kamar ya.. " Lanjut Syafia sambil berlaluenuju kamar. 

"Baik kakak cantik... " Sahur Syifa menggoda snang kakak. 

Selesai sarapan dan membereskan piring dan sisa-siaa makanan untuk sarapan pagi ini, Syifa segera bergegas menuju kamar Syafia. Syifa agak penasaran, gerangn apa yang dirahasiakan oleh kakaknya?! 

"Tok.. Tok.. Tok... Kak... Aku boleh masuk? Syifa minta aijin masuk kamar Syafia. 

" Masuk ja Syifa... "

Sejurus kemudian Syifa membuka pintu, dan melihat kakaknya duduk di depn mek belajar sambil membawa amplop. 

" Ada apa kak? Tnya Syafia masih bingung. 

" Alhamdulillah... Kita dapat rezeki Syifa... Ini uang untuk bayar kuliahmu" Kata Syafia sambil menyodorkan  amplop yang nampak agak tebal kepada Syifa. 

" Kakak dapat uang dari mana..? Tanya Syifa agak sedikit enggan menerima amplop yng disodorkn Syafia. 

"Kakak kna belum dapat pekerjaan... Apa kaka berhutang? Tnya Syifa sambil matanya berkata-kata. 

" Alhamdulillah... Tidak adikku, kakak juga tidak berani berhutang.... Apa yang akan pkai u tuk bayar? Jawab Syafia. 

"Syifa lupa bahwa Allah Maha Kaya? Ini adalaha rezeki dari Allah Syifa... Yang Allah  erikan lewat tn-tan halaqoh kakak' lanjutnya dan sesaat kemudian mereka terdiam. 

" Allah tidak akan membiarkan kita dlm kesulitan kalau kita sabar... Kita tidak udha takut, sellu ad jalan bagi Allah untukberikan rezekinya untuk kita Syifa" Yang disebut nampak masih dima tertunduk mencoba menyembunyikan tangisnya. Syifa tidak ingin disebut tidak yakin dengn keMahakasih Allah, Syifa tidak ingin dikatakan tidak sabar karena masihsaja mnnagis saat memikirkan kehidupannya dan kakaknya. 

"Kemarin ukhti Ana datang ke sini, dan memberikan ini sebagai beasiswa untuk Syifa... Itu semua dari Allah Syifa... Kita tidak perlu malu dn sedih " Lanjutnya mencoba menasehati adiknya yang nampka masih sangat rapuh. 

"Iya kak... Tapi ujian ini tercatat sangat besar untuk kita... Tiba-tiba saja kitaenkadi yatim piatu" Kata Syifa di telah isaknya. 

"Tidak boleh begitu adikku... Kita aini milik Allah, maka terserah Allah saja mau menjadikn jalan cerita kita seperti apa.... " JawabSyafiasambil mengelus jilbab adiknya. 

"Tpi Allah berjanji... Kalau kita sabar dan menyandarkan diri kita padaNya... Maka pertolongan Allah sangat dekat... Dan itu sudh kita Buktikan sekarang " Lanjut Syafia menasehati Syifa  adiknya. 

" Sudah ah nangisnya ... Nanti mata kamu sembab... Mau ke kmpus kan?! 

Syafia segera mengajak adiknya berdiri dan memintanya untuk segera berkemas menuju ke. Kampusnya. 

NEXT





"

Jumat, 09 April 2021

RAHASIA HATI SYAFIA 16

 Syafia masih belum bisa memahami, mengapa begitu sangat besar penolakan masyarkat terhadap muslimah bercadar? Padahal untuk sampi pada tahap ini, para muslimah juga melalui perjuangan menaklukkan hatinya, hanya karena berharap ridlo Allah semata. 

Para wanita yang membawa takdir menjadi sumber fitnah dunia, dengan kecantikan, kelbutan hati, serta kelemahan fisiknya, mengharuskan para wanita muslimah pada khususnya untuk melindungi diri dengan berhijab. Hijabnya diharapkan dapat melindunginy dari segala godaan dan kejhailan yang disebbakn oleh nafsu iblis yang menjadi sumber fitnah dan musibah bagi para muslimah.

Namun ternyata ujian bgi wanita bercadar tidak semudah itu. Masyarakat yang mayoritas muslimpun belum dapat memahami bgaimana  bisa Syafia dan kawan-kawan bercadar nya memilih jalan ini. Syafia dan muslimah bercadar lainnya hanya menginginkan melindungi dirinya aman dari fitnah yang disebabkan oleh hawa nafsu jahat iblis yang biaya berkeliaran menyerupai manusia. 

Syafia hanya merasa dirinya nyaman dengan busnanya sekarang, tidak lebih dari itu. Namun, masyarakat menilai terlalu berlebihan.ereka dianggap sebagai wanita-wanita kelompok teroris  Astaghfirullahal 'adzim. 

"Assalamu'alaikum... Tok tok tok .. " Tiba-tiba terdengar suara salam dan kethokan pintu. Syafia tersentak dari lamun nanya dan seger bangkit dari tempat duduk favoritnya di sebelah jendela yng menampakkan view persawahan yang indah. 

"assalamualaikum... " Suara merdu seorang wanita terdengar lagi. Suara yng tidak asing bagi Syafia. Itu adalah suara Ana, guru mengaji Syafia. 

"Walaikumsalam.... Maaf ukhti sebentar.. " Jawab Syafia sambil membetulkan posisi jilbabnya sambil berlari menuju pintu depan. 

" Walaikumsalam... Ukhti Ana.. Silahkan masuk " Syafia agak tka percaya pagi-pagi sang murobbi Ana dtang bersilaturahim. 

"Silahkan ustadz... " Syafia juga mempersilahkan suami Ana untuk masuk ruang tamu mungil sederhana yng tertata cukup apik. 

"Silahkan duduk ukhti, ustadz .. Maaf tidak ada kursi tamu" Lanjut Syafia mempersilahkan Ana dan suami duduk di alas karpet yang tidak lagi bagus. 

" Iya makasih ukhti Fia... Tidak usah repot... Ukhti duduk saja di sini.... Kami tidak lama kok"  Kata Anaenahan Syafia ketika Syafia hendak masuk ke dalam rumah menyiapkan suguhan. Syafia kembali duduk disamping Ana. 

" Ukhti, kami ke sini hanya ingin menyampaikan sedikit infak beasiswa untuk adik ukhti Syifa... Tidak banyak sih, tapi Ana berharap semoga bermanfaat" Ujar Ana lngsung ke pokok persoalan. 

MasyaAlalh.... Begitulah jika Allah berkehendak, tidak akan ada yang sulit bagi Allah untuk memberi jalan pada tiap kesulitan hambaNya. Sungguh Allah  Maha sangat dekat, Maha mendengar dan Maha pemberi. Allah gerakkan hati Ana dan suaminya untuk menjawab doa Syafia yang dilantunkan nya. Tidak erlu waktu lama, karena baru dallam sholat dhuha beberapa jam lalu Syafia memohon sambil menangis, memapsrahkan dirinya hanya ada Allah atas semuaasalah yng tk mampu dia selesaikan. Dn Allah membuktikan keagungnanya. 

" MasyaAllah.. Alhamdulillah... Terimakasih ustadzah" Kata Syafia dengan mata berkaca-kaca sambil menerima amplop yang di ulurkan oleh Ana. 

Syafia semakin yakin, tidak perlu ada ketakutan menjalani takdir ilahi. Sungguh Allah sendiri yang kan menunjukkan jalan dalam menapaki jalan takdir yng telah ditulis Nya untuk kita. 

Next



 

Senin, 05 April 2021

RAHASIA BILIK HATI 15


Syafia terus saja melangkah gontai, seakan tanpa tujuan langkah kakinya terus diayunkan. Pandangan matanya kosong, tak pedulikan banyak orang yang melihatnya dengan tatapan sinis. Barangkali karena busana yang dipakainya tidak lazim digunakan oleh masyarakat di kota itu? 

Syafia terus saja menyusuri trotoar mengabaikan beberapa kali sopir taksi mencoba menawarkan tumpangan berbayar untuknya. Langkahnya terus saja terayun, menari bersama debu halus yang turut berterbanganengikuti irama kakinya. 

Yang terjadi sama sekali tidak pernah difikirkan oleh Syafia, bagaimana dia harus menjelaskan pada adiknya Syifa yang sangat berharap kakaknya segera mendapat pekerjaan agar dia segera dapat melunasi SPP di sekolahnya? Bagaimana mungkin tega mematahkan harapan dan cita-cita adiknya agar dapat melanjutkan ke perguruan tinggi?! Apa yang harus dia lakukan selanjutnya? 

Beratus pertanyaan berputar dalam otaknya yang tak satupun mampu dia jawab. Pikirannya terus saja berputar diiringi langkah kakinya yang terus saja melnagkh tnpa tujuan. 

Ciiiiiiiittttt.. . Tiba-tiba ada suara deritan mobil yng di rem mendadak diikuti teriakan sang sopir. 

" Mbak...Kalo mau mati jangan disini!! 

Teriakan marah yang segere menyadarkan Syafia, di telah berjalan menyeberang jaln tanpa disadarinya hingga tidak memerhatikan mobil putih yang melaju dengan kencang ke arahnya. Syafia tidak menyadari telah berjalan sejauh 3 menuju rumah kontrakannya. Kegalauan hatinya telah mengalahkan seluruh rasa lelah badannya. Syafia segera mempercepat langkahnya, dia ingin segera sampai di rumah sebelum adiknya Syifa datang dari sekolah. 

Sesampai di rumah kontrakannya yang mungil dan sangat sederhana, Syafia segera menyimpan berkasnya dalam tumpukan map kuliahnya dulu. Syafia tidak menginginkanSyifa tahu bahwa hingga kini dia belum mendapat pekerjaan. Syafia tidak menginginkan berdebat lagi dengan adiknya tentang cadar yang tetap ingin dia pertahankan walau apa yang terjadi. 

Bagi Syafia, busana berikut cadar nya adalah identitas dirinya yang sudah sekian tahun dia pertahankan. Syafia sudah merasa sangat nyaman dengan cadar yang dipakainya. Dia tak lagi merasa risih ketika di jalan digoda oleh para pemuda ndak jelas. Dia ndak harus merasa repot menyembunyikan wajah cantiknya dari tatapan jalang penuh syahwat. Syafia merasa cadar dan busana yang dipakainya adalah pelindung dirinya. Meskipun kini dia harus mendapat ujian berat untuk tetap mendapat pekerjaan demi mempertahankan hidup dia dan adiknya, atau tetap tidak melepas cadar nya?! 

Setelah bersih-bersih diri, Syafia segera memasak masakan sederhana sekedar untuk makan siang dia dan adiknya. Mie instan yang ditambah dg irisan bawang dan cabe serta garam agar dia dapat menambahkan kuahnya. Danenikmati sajian sederhana untuk sekedar mengganjal perut bersama adiknya. 

______

Syafia menangis dalam sujud malamnya, di atumpahkan segala resah yng penuh sesak di dalam dadanya. Cobaan yang teramat berat dia harus menerima tanggung jawab kehidupan seperti ini. 

"Ya Rabbul izzati.... Engkau sungguh Maha tau apa yang sedang kami alami, Engkau sungguh Maha tau apa yang sedang terjadi pada kami yaa Rabb... Berilah pertolongan pada kami. Jangan beri kami ujian yang kami tidak mampu menahannya.... Setelah engkau onaggil kedua orang tua kami sungguh kami lemah yaa Rabb.... Kuatkn kami" 

Suara lirih Syafia diiringi deras aliran air mata di pipinya. Bayangan kedua orang tuanya kembali menari dipelupuk mata indah yang kini sudha nmapka membengkak karena tangisnya. Kerindunanya yang kian membuncah tak lagi terbendung, memburai deras bersama air mata yang kian deras mengalir membasahi sajadah lusuh di hadapannya. 

Syafia menyimpan sendiri sejuta keluh dalam hatinya yang semakin rapuh, di atau ingin ada yang tahu, terutama Syifa adiknya yng tentu juga sudah hancur sepeninggal mama papa nya. Syafia ingin nampak tegar dan kuat di mata Syifa, dia ingin bisa menjadi tempat bersandar dan berlindung Syifa adiknya, meski hampir setiap malam dia meratap kepada Sang penulis cerita kehidupan. 

" yaa Allah indahkan  takdir kehidupan kami ... Aamiin" Penutup doa yng selalu Syafia ucapkan dilahirkan sholat. 

"Kak.... Bagaimana sudah ada panggilan kapan kaka mulai kerja?!

Syifa mecah kesunyin pagi saat mereka berdua sarapan, cukup menggaet kn Syafia. 

" Belum Syifa... Kakak tunggu saja semoga segera dapat panggilan untuk memulai bekerja"

Jawab Syafia berbohong, karena sebenarnya dia sudah dipanggil wawancara dan dinyatakan tidak diterima karena Syafia menyatakan tidak bersediabuka cadar nya. Masih seperti lamaran-lamaran sebelumnya yang disampaikan Syafia ke beberapa perusahaan besar. Pada umumnya mereka sangat tertarik dwngna profil dan kemampuan akademik Syafia yang brilian, tetapi selalu mereka meminta syarat yang bagi Syafia tidak dapat di Terima. 

Syafia sengaja tidak bercerita kepada Syifa yang sebenarnya, karena Syafia tahu pasti Syifa akan kecewa dengan keputusannya ini. Beberapa kali Syifa menyampaikan agar kakaknya mau melepas cadar nya agar mudah mendapat pekerjaan. 

" Kak... Ujian akhir kurang beberapa bulan lagi, ki harus seger melunasi tanggungan SPP yang belum terbayar kak.... Kalau bisa tidak sampai ditagih... Aku malu kak" Syifa berkata lirih. 

" Tentu tidak Syifa... Kakak berjanji bulan depan seluruh SPPmu akan kakak lunasi " Jawab Syafia yakin, sengaja tidak menampakkan kergauan dalam hatinya pada adiknya. 

Selesai sarapan Syifa seger berpmitn pada kakaknya untuk pergi sekolah, dan Syafia bergehas membersihkan meja makan.